[Bahasa Jawa] Apa Sih Bedanya “d” Dengan “dh”


Dalam penulisan bahasa jawa latin, kita akan menemui “d” dan “dh”. Huruf “d” adalah pengucapan tipis, contohnya : degan (kelapa muda), dudu (bukan), adus (mandi), dodol (berjualan) serta wadon (wanita). Sedangkan penulisan “dh” adalah pengucapan tebal, mirip huruf “d” dalam bahasa Indonesia. Contohnya adalah : wedhus (kambing), endhas (kepala), godhong (daun) serta bodho (tidak pintar).

Karena pelajaran Bahasa Jawa sepertinya sekarang hanyalah untuk pelengkap, sepertinya hal ini kurang diperhatikan. Malah sering ditemui penulisan yang terbalik, “dh” untuk pengucapan tipis sedangkan “d” untuk pengucapan tebal. Ini pengaruh penulisan bahasa Indonesia dimana sepertinya tidak mengenal d tipis.

Hal ini berpatokan pada Pelajaran Bahasa Jawa yang saya terima, apakah ini baku atau ada kurikulum daerah lain yang berbeda, saya kurang tahu. Namun yang saya ingat, Pelajaran Bahasa Jawa yang saya terima mengacu kepada Bahasa Jawa Jogja-Solo.

About these ads

49 responses to “[Bahasa Jawa] Apa Sih Bedanya “d” Dengan “dh”

  1. opo yo bentuke sing bedo..

    podo roso opo rosa

    Like this

  2. pakde, saya ini perantauan dari barat pulau jawa, tapi di jatim sama temen2 pake bahasa jawa sehari-hari (kalo kromo inggil ra mudeng blas) :mrgreen:
    mo nanya kalo artine tilis dalam bahasa sehari-hari itu apa yach?
    dalam pengucapan:”mengkok tak tilis gawe shock yss” :mrgreen:
    matur nuwun before..

    Like this

  3. yups… Benul, dadi kemutan Bu Nur nang smp1 banyumas kiye, emene poll mbi nyong….

    Like this

  4. “Pelajaran Bahasa Jawa yang saya terima mengacu kepada Bahasa Jawa Jogja-Solo.”

    pantes, aku akeh konco kuliah orang tegal brebes, bahasane beda karo bahasa jawaku tapi selalu nyambung klo ngobrol karo aku.. hehe :D

    bahasa kedua suriname juga Bahasa Jawa Jogja-Solo lho mas :mrgreen:

    http://rtv-garuda.com/webplayer.html

    Like this

  5. Jas Bukak Iket Blangkon
    Sama Jugak Sami Mawon

    Like this

  6. seratan ingkang sae sanget pakdhe, menawi saget asring-asring ndamel seratan kados mekaten supados tiyang jawi mboten ical jawinipun! nuwun! :wink:

    Like this

  7. sing penthing ngerti karepe… <- nulis "th" bener ora kang? :mrgreen:

    Like this

  8. hayo…sing bener “pak de” opo “pak dhe”?

    Like this

  9. Yang bener de pak…

    Like this

  10. kalah karo bhs.english….cah sekolah today cas-cis-cus ala Cinca Lauya….jyadul ah….!!!

    Like this

  11. yang mas maskur tulis “udu”, seharusnya “dudu”. udu itu hanya dialek lokalan, bukan bahasa jawa baku/standar. begitu pula “ndhas” seharusnya “endhas”. sekedar informasi, saya “kebetulan” terlahir sebagai kemenakan almarhum bapak R Poedjosoebroto, penulis Puspo Pusoko, Pinter Moco, Pinter Boso.

    Like this

  12. kepada #99 bro, roso (mungkin maksudnya :”rasa”) beda dengan “rosa” = kuat (tenaga). sayangnya, bahasa jawa yang sebenarnya ditulis dengan “a” tetapi diucapkan “o” rendah, bukan o seperti toko, komodo, kalau dituliskan apa adanya seperti aturan huruf jawa yang benar, akan dibaca a oleh yang bukan orang jawa.

    Like this

  13. Mas Adi Susilo bener. Salah kaprah itu sayang telah dilegitimasi. Misal Kota Solo, seharusnya Sala. Pengucapan huruf “A” dalam Sala ucapannya Sa = ndesO
    La = seperti mengucap kata ekO.
    *angel tenan nerangke ucapan nganggo tulisan :mrgreen:

    Like this

    • @abu tanisha
      Spertinya yang anda maksud terbalik.
      yang medhok itu justru yang “d”
      kalo “dh” itu yang diucapkan sama dengan “d” dalam bahasa Indonesia.
      Penulisan medhok yang baku adalah medhok bukan medho’.

      Like this

  14. Lha kalo dodol = jualan berarti kalo untuk dodol Garut penulisannya dhodhol Garut ya? Kan pengucapannya beda. Apa malah kebalik ya? :-o

    Like this

    • @adi susilo
      wah iya mas, tadi nulis contohnya tidak terlalu mikir, pokoknya yang bunyinya itu.
      sudah diralat
      kalo ada artikel lain yang seperti ini tolong ditanggapi lagi.
      tentang “a” jejeg (a dibaca a) dan o miring (a dibaca o), sebagai orang Banyumas yang pernah 5 tahun di Solo dan 3 tahun di Semarang saya sangat memahami bedanya.

      @Kang Nadi
      Salah kaprah dan banyak yang tidak tahu. Aku juga bingung kalo ngomong “Solo” itu pake “o” jejeg apa “o” miring. AKhirnya campur-campur, kadang Solo (o jejeg) kadnag Sala (o miring).
      @Busa_tio
      dodol = berjualan
      dhodhol = jenang

      Like this

  15. sayang ane ga bisa bahasa jawa… jadi ingat pelajaran bahasa daerah….! like

    numpang nyales!
    http://jheren.wordpress.com/2011/02/24/apa-sich-bedanya/
    *mohon saran ane newbie

    Like this

  16. dh kiy kesannya medho’, beda wedi dengan wedhi

    tapi karena adanya perbedaan ini, ilat (lidah) orang jawa dadi medho’, susah ngilagi, yen nang jakarta kethok tenan, opo maneh dikongkon sinau bahasa sunda, wes pasti susah

    Like this

    • @zaqlutv
      wah basa jawa timuran, yang bersifat khusus juga ku kurang tahu. yang dari jatim saja yang menerangkan.
      @Kang Elsa
      memang begitu, jawa yang diangap baku adalah versi jogja-solo.
      kalo sekarang kurang tahu. pernah dengar di Banyumas menggunakan patokan Banyumas.
      @Pak Irawan
      insya Allah ada artikel senada yang lain.
      @Cak Poer
      Penting = important
      penthing = aku tidak tahu artinya (mbacanya kaya orang Bali)
      jelas Pak Dhe!

      Like this

  17. ho no co ro ko do to so wo lo po do jo yo ngo

    Like this

  18. bukannya bahasa indonesia tidak mengenal dh ?

    Like this

  19. Yang ane sering liat salah kaprah tuh malah dari cara orang menuliskan kata2 Jawa… Misal Kota “Solo” harusnya ditulis “Sala” dan salah kaprah lagi bacanya bukan solo=tunggal melainkan solo, huruf “o” nya dieja layaknya huruf “o” pada kata “tolong”, seperti kalo kita orang jawa mengucap kata “salatiga”

    Like this

  20. @18. dnugros

    yang baku :

    ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga

    Like this

  21. Kalo bahasa banyumas setau ane huruf “a/ha” dibaca “a”, bukan “o”.., trus huruf mati “k” pada akhir kata pada bahasa jawa baku diganti “t” pada bahasa banyumasan.. misal: “dhisik” jadi “dhisit”; “sedhiluk/sedhelok” jadi “sedhilit”; “jarik” jadi “jarit” dll…

    Like this

  22. bedanya adhi dengan adi opo ya?
    *mbuka gugle jawa :mrgreen:

    Like this

  23. Belajar hanacaraka waktu SD 40 tahun lalu, sekarang malah tak bisa sama sekali ….

    Like this

  24. kalo smsan pake b. Jawa sama temen sering kacau gara-gara antara a dan o. misal aku nulis saka (maksudku dari) dibacanya saka pake a biasa jadi ga ngerti artinya..

    Like this

  25. tilis iku prokeman..
    Boso walikan e, arema jeh..
    Contoh: silup, libom, ojob, dll sbgnya :D

    Like this

  26. nek ngodhog wedang pripun pak dhe?

    Like this

  27. jenengku yo pake “dh”. dan aku bangga akan hal itu.
    lebih exotic.. mbedani.. dan njawani… :)

    Like this

  28. arti kata ‘podo’ sangat berbeda dengan ‘podho’..

    Like this

  29. es degan = ice the gun
    :D

    Like this

  30. @Pak Iksa
    huruf jawa karena jarang dipakai memang rawan lupa.
    @Moko
    itulah generasi muda sekarang. heheheh yang tua juga ding.
    @Bejo
    tepat, 100 benar itu “nggodhog wedang”.
    @Skyrider
    gimana kali diganti juga dengan SKYRIDHER
    @RAya
    maksudnya “pada” dengan “padha”

    Like this

  31. Bahasa jawa tu hebat bgt lho, kekayan kosakatanya sgt tinggi, banyak kata tak bisa diterjemahkan dalam bhs Indonesia scr langsung, coz artinya spesifik. contoh “kunduran” mobil. “kunduran” dlm bhs indonesia nggak ada kata penggantinya.
    tp wajar. bhs jawa dah berkembang ratusan tahun lebih, sdg bhs Indonesia baru beberapa puluh tahun aja.
    Untuk bhs ilmiah sbnrnya bhs jawa lebih mumpuni dibanding dg bhs Ind, setara dg bhs inggris coz kekayaan istilah yg lebih tersedia.

    Like this

  32. DHUWUR
    DHUWUR

    Like this

  33. DHUWUR
    DHUWUR
    DHUWUR

    Like this

  34. kalo ‘d’ di bahasa jawa, pengucapannya ujung lidah menyentuh gigi depan (gigi tertutup). Kalo gigi terbuka, jadinya ‘t’ :D kalo ‘dh’: posisi ujung lidah ada di langit2 rongga mulut :mrgreen:
    nickname saya ada ‘dh’-nya lho :)

    Like this

  35. Coba bedakan Pèntil, Pentil, lan Penthil, lara lan loro, cara lan coro.

    Like this

  36. masih gak mudeng, gimana ya?

    Like this

Silahkan Saran Dan Kritiknya ... Awas Judul Sama Isi Bisa Beda lho

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s