Semarang (Part 2) : Simpang Lima


Simpang Lima

Bekerja di kantor yang berlokasi di simpang lima, mau tidak mau saya menyaksikan kehidupan dari pagi sampai malam di jantungnya kota Semarang itu. Simpang Lima Semarang adalah pusat keramaian kota Semarang. Di sini terdapat Mall Ciputra, Hotel Ciputra, Matahari dan Ramayana serta kompleks Ruko. Agak ke selatan akan kita temukan Kantor Gubernur Jateng, Gedung DPRD Jateng, Gedung BI (yang mempunyai bentuk arsitektur unik) juga Kampus UNDIP.

Semarang Plaza

Citraland

Banyak yang khas yang tidak ditemukan di daerah lain. Mengenai penjual makanan misalnya, selain penjual makanan umum (mie ayam, bakso, ayam-lele goreng, sate, soto dll) di sekitar simpang lima banyak penjual Tahu Gimbal. Tahu Gimbal ini menurut saya adalah makanan yang maih bergenre  sama dengan Gado – gado, Lotek dan Ketoprak. Makanan bernama Tahu Gimbal adalah campuran lontong dengan sambal kacang, tahu goreng dan udang goreng tepung. Mungkin karena setelah diuleg dan dicampur bentuknya yang gimbal (begelombang /menggumpal tidak teratur) sehingga dinamai demikian.

Tahu Gimbal

Penjual makanan lain yang khas adalah yang disebut (kalo tidak salah) Gela Gelo Gilo Gilo, ini adalah penjual makanan yang terdiri dari buah-buahan dan gorengan serta makanan kecil lain yang ditaruh di atas gerobak. Di daerah lain tidak saya temukan adanya gorengan dan buah dijual bersamaan. Gorengannya biasa saja, yaitu tempe, tahu, pisang dan ada juga tape goreng. Buah – buahan yang dijual biasanya semangka, melon, nanas, bengkoang dan pepaya (yang tinggal santap, karena sudah dikupas dan dipotong – potong). Selain itu ada juga apel dan jeruk. Namun ada juga
nanas dan pepaya yang masih utuh, saya kurang tahu apakah buah utuh itu memang dijual utuh ataukah cuma sebagai cadangan kalo buah yang sudah dipotong itu habis. Makanan lain yang dijual misalnya telur puyuh tusuk, ada juga semacam sate yang dari rupanya mirip sate koya / sate kéré di Solo. Penjualnya adalah bapak – bapak yang sudah berumur. Dari percakapan singkat dengan penjualnya, baru tahu kalo makanan – makanan itu adalah titipan orang.

Gilo Gilo

Yang banyak juga di seputar simpang lima adalah penjual Nasi Kucing, sepertinya ada nama tersendiri namun orang – orang menyebutnya demikian. Mungkin kita ingat dengan Angkringan Jogja dan Wedangan (HIK) Solo yang menyediakan nasi kucing juga, tapi yang bukan model seperti itu. Merupakanwarung tenda yang menyediakan nasi bungkus kecil – kecil dengan bebagai pilihanmenu, diantanya Nasi Rames, Nasi Ayam Lobok Ijo, Nasi Oseng Usus dan masih banyak ragam yang lain. Disini juga menjual gorengan dan minuman. Orang makan disini bukan untuk mencari hiburan, atau makan kecil sambil ngobrol seperti yang kita temui di Angkringan dan Wedangan, namun memang bertujuan untuk makan. Warung – warung seperti ini bukan dari jam 1 siang sampai tengah malam.

Masih tentang makanan, kemarin saya mencoba Wedang Ronde, namun agak kecewa dengan isinya karena tidak sesuai bayangan saya. Saya membayangkan wedang ronde sama seperti yang saya dapatkan di Solo, segar, panas dan kaya akan isi. Yang saya dapatkan di sini cuma berisi air jahe yang sudah agak dingin, kacang sangrai, 2 potong kolang – kaling, potongan agar – agar dan dua buah bola tepung berisi kacang serta disajikan dengan mangkuk besar jadi tekesan miskin isi. Juga dari label gerobaknya tertulis “Es Ronde”. Walah opo meneh iki?saya kan lagi yang cari yang anget – anget.  Padahal di kota lain yang saya pernah temui, isinya tidak semiskin itu. Di kota lain wedang ronde disjikan panas, dengan isi yang komplet dan perbandingan isi yang seimbang serta yang pasti, bola tepungny berisi gula bukan kacang, jadi lebih Mak Nyuss. Malah di Cilacap, wedang rondenya di kasih susu kental manis, jadi lebih gurih walaupun mengurangi kesegarannya.

Selain makanan ada juga hal – hal unik yang saya temukan. Waktu saya sedang makan di warung nasi kucing, biasanya didatangi oleh anak perempuan berumur kurang lebih 10 tahun, dan menadahkan tangannya. Tapi kalo dilihat dari penampilannya, dari segi marketing meraka sama sekali tidak menjual untuk jadi pengemis. Meraka bajunya masih bagus sandalnya aja baru. Karena tiap hari melihat lama – lama jadi apal kalo merajka berjumlah 3 orang dan otomatis saya tidak memberi apa – apa lagi kalo mereka meminta – minta.

Ada hal yang bagus menurut pengamatan saya adalah “di seputar Simpang Lima Semarang

hampir tidak ada lalat”. Pernah sekali waktu, dari kejauhan melihat semangka dan tempat membuat minuman dikerumuni seranggga besar – besar, saya pikir itu lalat ijo. Ternyata bukan! Serangga itu adalah Lebah Madu, bagus sekali karena meraka adalah serangga yang bersih.

Begitulah yang saya temui di Simpang Lima Semarang, mungkin banyak hal yang terlewatkan, yah maklum karena saya baru tiga minggu disini. Juga banyak hal yang saya katakan unik, padahal mungkin hal itu juga ditemui di daerah lain. Harap dimaklumi karena saya bukan seorang yang telah mengunjungi setiap tempat.

Iklan

6 pemikiran pada “Semarang (Part 2) : Simpang Lima

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s