Ramadhan Dan Keragamannya


Tak terasa bulan suci ramadhan telah datang kembali, dan sudah memasuki separuh masanya. Dalam menyambutnya, kaum muslimin banyak melakukan ibadah dari siang sampai malam. Karena ada beberapa guidance dalam menjalani islam, maka ibadah yang dilakukan di bulan ramadhan juga ada beberapa macam yang dilakukan oleh kaum tertentu, namun tidak dilakukan kaum yang lain. Misalnya ada seorang teman yang dari kecil hidup di Palembang, sewaktu di Semarang merasa heran dengan shalat Witir yang dilakukan 2 rakaat plus 1, bagi yang hidup di Jawa mungkin biasa melihat keragaman tersebut. Tapi hal itu bukanlah menjadikan masalah yang besar, kecuali beberapa orang dengan pendalaman yang kurang, sehingga mempermasalahkan hal-hal kecil. Disini hanya akan membahas dengan ringan mengenai keragaman dalam beribadah, serta kebiasaan yang dilakukan orang–orang dari segi sosial.

Dulu sewaktu kecil sampai tamat SMA (dulu SMU), hidup di desa di daerah Banyumas, dalam menyambut ramadhan, kebiasaan yang tidak akan hilang dari ingatan adalah “kolak”. Di luar bulan ini hampir tidak mungkin menenukan kolak. Kemudian kebiasaan di keluarga yang teramat sangat membuat rindu kampung halaman adalah sewaktu menantikan buka puasa. Keluarga biasanya berkumpul di sekeliling meja makan sambil mendengarkan santapan rohani selama kurang lebih 5 menit dari radio RRI. Kemudian waktu berbuka tiba, hal pertama yang dilakukan biasanya niat berbuka puasa kemudian menyantap kolak, nikmat sekali rasanya setelah menahan haus dan lapas seharian kemudian menyantap kolak yang hangat, manis dan gurih. Hal ketiga adalah memakan gorengan atau makanan kecil lain, setelah itu ambil air wudhu dan Shalat Magrib. Setelah shalat baru makan besar, terus ke ruang tengah sambil gobrol atau menonton TV, selanjutnya berangkat ke masjid untuk Shalat Tarawih. Di sini Tarawih dilakukan 20 rakaat plus Witir 3 rakaat.

Setelah masuk kuliah di Solo, otomatis kebiasan jadi berubah. Sebagai anak kos yang harus berhemat, buka puasa biasanya hanya dengan air putih, atau dicampur dengan minuman instant. Kolak hanya sesekali waktu beli di pinggir jalan atau kalo ibu kos yang menyiapkan untuk anak-anak kos semua. Shalat Tarawih juga jumlah rakaatnya berbeda menjadi 8 rakaat (4 rakaat dua kali atau 2 rakaat 4 kali) plus 3 Witir. Yang tidak terlawatkan adalah acara buka bersama, baik dengan teman satu angkatan maupun dengan perkumpulan satu daerah.

Sewaktu bekerja di Jakarta, menemukan lagi kebisaan berbuka. Untuk berbuka puasa di masjid-masjid biasanya disediakan makan besar, jadi buka langsung makan makanan lengkap. Ada juga yang hidangan berbukanya, terutama nasi dan lauk pauk, diletakkan di nampan, kemudian orang-orang makan disekeliling tiap nampan,biasanya 4 atau 5 orang per nampan. Di Jakarta juga kebanyakan jumlah rakaatnya 20 plus 3, kecuali jamaah di kantor-kantor

Setelah di Semarang, ada juga yang unik. Di sini Kultum di adakan setelah tarawih rakaat ke 8, setelah kultum baru dilanjutkan shalat sampai rakaat ke 20 plus 3. Kalo ditempat lain biasanya kultum diadakan setelah Isya menjejelang tarawih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s