Bike Of My Life Pt 2 – ALFA


Yamaha Alfa adalah motor pertama yang benar-benar boleh saya pakai. Artinya saya dilepas untuk mengendarai motor ini, untuk sekolah, pergi kemana saya suka. Walaupun tidak setiap hari saya bisa membawanya ke sekolah.


Dengan motor ini saya bisa merasakan enaknya mesin 2 tak (atau pernah disebut di facebook dengan istilah “side-oil-vora” alias pengkonsumsi oli samping). Memang setelah berlatih dan terbiasa dengan mesin 4 tak yang kurang garang, kemudian berpindah ke 2 tak, pertama kali agak kaget. Grip gas begitu enteng diputar, RPM begitu cepat naiknya. Selain itu juga pertama kali merasakan persneling sampai gigi 4.

Saya tidak tahu persis berapa volume silinder Yamaha Alfa, karena tidak tercantum di blok silindernya, belakangan saya mengetahuinya dari mesin Yamaha Sigma yang mempunyai mesin sama, yaitu 102 cc. Dengan kapasitas tersebut saya bisa merasakan bagaimana kecepatan 100 km/jam (atau mungkin lebih sedikit). Walaupun dengan konsekuensi tidak stabilnya motor jika terkena terpaan angin maupun berpapasan dengan kendaraan roda 4 atau lebih

Selain itu saya juga (sampai sekarang) menyukai handling motor ini (dan motor-motor Yamaha lain), karena setangnya mantap digenggam, mudah untuk bermanuver, atau orang Jawa bilang “anteb”. Menjadikan grip roda depan seperti menekan ke jalan. Ternyata hal tersebut malah jadi kekurangan bagi orang yang terbiasa naik motor Honda, katanya setangnya berat. Padahal kalo menurut saya motor Honda-lah yang terlalu enteng, grip depannya seperti kurang menekan ke jalan. Berarti itu semua karena kebiasaan saja.

Jika dibilang mesin 2 tak boros bensin, memang benar. Namun pada waktu itu bensin murah sehingga orang tidak banyak berpikir tentang konsumsi bensin. Buktinya motor-motor 2 tak bermunculan yang baru. Kalo tidak salah pada waktu saya membawa Alfa, sedang ngetrend Suzuki Tornado yang bentuknya revolusioner juga pelopor rem cakram double piston untuk motor bebek dan baru munculnya bebek berkopling manual alias Yamaha F1ZR, dengan iklan Matadornya. Memang saya ketinggalan trend, yah namanya juga orang desa, Alfa masih terhitung keren (di desa saya lho).

Kembali ke bensin, waktu itu memang uang saku saya cukup untuk beli bensin, yang agak berat bagi saya adalah konsumsi SIDE-OIL alias Oli Samping. Saya harus menabung untuk rutin menggantinya secara berkala. Pernah saya coba biar irit, beli oli samping literan. Ternyata dengan oli murah itu, motor saya kalo digeber sampai 100 kmph pistonnya macet. Kapok deh.

Dengan motor ini saya mempunyai banyak kenangan. Termasuk alat buat PDKT (walopun gagal), juga pastinya alat pendukung kegiatan sekolah. Namun yang masih berbekas sampai sekarang adalah bekas luka di muka. Bersama motor ini saya jatuh (kecelakaan tunggal) yang saya sendiri tidak tau sebabnya. Kata orang karena melewati daerah angker. Yang jelas saya luka parah karena :”tali helm tidak saya kancingkan”. Menyesal sekali saya mengingat hal itu. Tapi dimana motor itu sekarang, saya tidak tahu. Biarlah menjadi kenangan. Karena penggantinya adalah the legend, a most formidable bike of YMKI.

Yamaha Alfa adalah motor pertama yang benar-benar boleh saya pakai. Artinya saya dilepas untuk mengendarai motor ini, untuk sekolah, pergi kemana saya suka. Walaupun tidak setiap hari saya bisa membawanya ke sekolah.

Dengan motor ini saya bisa merasakan enaknya mesin 2 tak (atau pernah disebut di facebook dengan istilah “side-oil-vora” alias pengkonsumsi oli samping). Memang setelah berlatih dan terbiasa dengan mesin 4 tak yang kurang garang, kemudian berpindah ke 2 tak, pertama kali agak kaget. Grip gas begitu enteng diputar, RPM begitu cepat naiknya. Selain itu juga pertama kali merasakan persneling sampai gigi 4.

Saya tidak tahu persis berapa volume silinder Yamaha Alfa, karena tidak tercantum di blok silindernya, belakangan saya mengetahuinya dari mesin Yamaha Sigma yang mempunyai mesin sama, yaitu 102 cc. Dengan kapasitas tersebut saya bisa merasakan bagaimana kecepatan 100 km/jam (atau mungkin lebih sedikit). Walaupun dengan konsekuensi tidak stabilnya motor jika terkena terpaan angin maupun berpapasan dengan kendaraan roda 4 atau lebih

Selain itu saya juga (sampai sekarang) menyukai handling motor ini (dan motor-motor Yamaha lain), karena setangnya mantap digenggam, mudah untuk bermanuver, atau orang Jawa bilang “anteb”. Menjadikan grip roda depan seperti menekan ke jalan. Ternyata hal tersebut malah jadi kekurangan bagi orang yang terbiasa naik motor Honda, katanya setangnya berat. Padahal kalo menurut saya motor Honda-lah yang terlalu enteng, grip depannya seperti kurang menekan ke jalan. Berarti itu semua karena kebiasaan saja.

Jika dibilang mesin 2 tak boros bensin, memang benar. Namun pada waktu itu bensin murah sehingga orang tidak banyak berpikir tentang konsumsi bensin. Buktinya motor-motor 2 tak bermunculan yang baru. Kalo tidak salah pada waktu saya membawa Alfa, sedang ngetrend Suzuki Tornado yang bentuknya revolusioner juga pelopor rem cakram double piston untuk motor bebek dan baru munculnya bebek berkopling manual alias Yamaha F1ZR, dengan iklan Matadornya. Memang saya ketinggalan trend, yah namanya juga orang desa, Alfa masih terhitung keren (di desa saya lho).

Kembali ke bensin, waktu itu memang uang saku saya cukup untuk beli bensin, yang agak berat bagi saya adalah konsumsi SIDE-OIL alias Oli Samping. Saya harus menabung untuk rutin menggantinya secara berkala. Pernah saya coba biar irit, beli oli samping literan. Ternyata dengan oli murah itu, motor saya kalo digeber sampai 100 kmph pistonnya macet. Kapok deh.

Dengan motor ini saya mempunyai banyak kenangan. Termasuk alat buat PDKT (walopun gagal), juga pastinya alat pendukung kegiatan sekolah. Namun yang masih berbekas sampai sekarang adalah bekas luka di muka. Bersama motor ini saya jatuh (kecelakaan tunggal) yang saya sendiri tidak tau sebabnya. Kata orang karena melewati daerah angker. Yang jelas saya luka parah karena :”tali helm tidak saya kancingkan”. Menyesal sekali saya mengingat hal itu. Tapi dimana motor itu sekarang, saya tidak tahu. Biarlah menjadi kenangan. Karena penggantinya adalah the legend, a most formidable bike of YMKI.

Iklan

20 pemikiran pada “Bike Of My Life Pt 2 – ALFA

  1. mas alfaku warna unggu mbuh saiki wis tekan ngendi, mbiyen tak gowo tabrakan nganti blok mesin ambrol…. hikshiks…
    alah.. kok ono M.R, ono Maskurmambang… klonengan… heheheheeee..

    Suka

  2. Ping balik: Bike Of My Life Pt. 5 – VEGA « Learning To Life

  3. Ping balik: Bike Of My Life In Memoriam – RX Special « Learning To Life

  4. prnh jg naek alfa mas, beli bru thn 93, msh keren bgt wktu itu dikampung, bensin rata2 40km/lt oli samping kr2 500km/ltr sng bgt oprek msin wktu itu, 100km/j enteng. trus msuk kuliah 98 n ganti si King raja, perjalanan pp 60km tiap hr bensin 38-40km/l oli samping dapet hampir 1000km/ltr, malah lbih irit dr alfa olinya. yg sy rasakn pake 2 tak ymh gak boros amat, malah sesuai dg powernya, tp perawtnya tu lho yg plg gampg, bisa sendiri

    Suka

  5. wokeh gpp gan, kan motor ane jadi terkenal . . . . 😀

    ntar deh kalo modifnya dah beres ane kasih foto terbarunya . . . 😀

    Suka

  6. gue punya alfa………..
    tp klo gi” 1 ma 2 na cpt mintk d oper………
    gmn ea biar mslh thu g trjd lg…………
    thank’s………………

    Suka

  7. nmpang testi, . .
    klo alfa mmang gtu modelny, . ..
    tp di top speed dy mnang,… gi” 4ny g bkal abz, . .
    q pnyak alfa jhtan 94 , . . .
    tp dh ndak standrt smw, . .
    skarng dh full racing dng piston satria 120R ,knalpot fizr bedeln ,ban blok plang 3 , . .
    pxkq wrna htam, . .
    tenks,.~

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s