Temper Tantrum


Taken froum my friend’s Post on Facebook Notes,

Thursday, October 29, 2009 at 10:32am


Pertama kali dengar istilah ini dari dokter anaknya Faiza kira2 sebulan yang lalu. Waktu itu kita putuskan untuk membawa faiza untuk konsultasi ke Dokter setelah malam sebelumnya Faiza menangis dan berteriak2 sampai jam 2 pagi hanya karena saya salah mengambilkan handuk yang dia mau.

Dokter menyimpulkan Faiza mengalami Temper Tantrum an ada kecenderungan dia punya kesulitan mengontrol emosinya. Duh rasanya saat itu dunia saya mau runtuh deh……mungkin Pak Dokter sempat melihat ekspresi saya, dia berusaha menenangkan : ” Itu bukan penyakit koq, bukan juga kelainan, hanya kesulitan saja. Ibunya harus banyak2 baca buku Psikologi Anak niy “

Besoknya saya sibuk googling semua yang ada hubungannya dengan Temper Tantrum.
Secara teori Temper Tantrum adalah letupan amarah seorang anak, dan ini umum dialami oleh anak umur 2 sampai 4 tahun. Penyebabnya adalah rasa frustasi seorang anak yang bisa diakibatkan oleh banyak hal, dan kadarnya bisa berbeda2 setiap anak, dan karena kebetulan Faiza punya sedikit kesulitan untuk mengontrol emosinya, sehingga kadarnya jadi agak berlebih.

Masih secara teori, cara mengatasi apabila anak mengalami Temper Tantrum adalah :
1. Tidak memberinya perhatian
2. Tetap tenang, memberikan ruangan untuknya bisa meluapkan semuanya.
3. Selalu ada disampingnya, menemani sampai dia tenang
4. Bersikap tegas tapi lembut
5. Setelah semua badai berlalu, berikan dia pelukan

Awalnya saya pikir semuanya hanya teori, karena buat praktekinnya susah banget. Setiap kali anak kita mulai menangis dan berteriak2, kita pasti langsung bertanya apa yang buat dia menangis, apa yang dia mau untuk membuat dia tenang, dll. Tapi ternyata itu ga menyelesaikan masalah.

Akhirnya saya menyerah juga pada teori, dengan susaaaaaah payaaah saya coba ikutin teorinya.
Pertama kali pada saat makan malem bersama2, saya salah mengambilkan makanan untuk faiza, dan mulailah dia berteriak2. Saya gendong, saya bawa ke kamar. saya bilang
” Faiza menangis dan teriak2 dulu aja, bunda tunggu disini ya, nanti kalo udah selesai kita makan lagi”
Dia menangis sejadi2nya sambil teriak2, saya tungguin sambil duduk di depan pintu kamar, hanya memandang dia (sebenernya sambil bergulat dengan emosi diri sendiri yang udah ga sabar pengen nanya2 macem2) saya tetap diam,kira2 15 menit tiba2 dia berhenti.
Saya tanya ” Faiza udah selesai nangisnya?”
Dia mengangguk
“Faiza mau makan lagi?”
Dia mengangguk
“Faiza mau khan makan yang udah diambilin bunda?”
Dia mengangguk lagi, lalu saya berikan pelukan paling hangat deh, dan kita melanjutkan makan seperti tidak terjadi apa2.
Alhamdulillah it work……

Sampai saat ini, alhamdulillah sedikit demi sedikit mulai berkurang frekuensi Temper Tantrumnya, kalopun terjadi saya hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk memberi kesempatan dia menangis dan berteriak2 lalu tiba2 dia diam, otomatis memeluk saya dan bermain lagi seperti biasa.

Tidak mudah memang menerima kondisi anak kita, semua orang pasti pengen anaknya bisa tumbuh sempurna secara inteletual,emosional dan spiritual. Dari pengalaman yang saya alamin, yang terpenting adalah menyamakan visi dan misi antara ayah dan bunda untuk kebaikan anak. Karena saya dan suami juga mengalami banyak perdebatan sampai kita bisa berjalan di jalan yang sama lagi untuk membantu kesulitan Faiza mengontrol emosinya.

Saat ini kami lagi berusaha menanamkan pada Faiza bahwa apa yang menjadi keinginan dia adalah sebuah pilihan buat ayah dan bundanya, bukan sebuah keharusan. Kami ingin dia tumbuh dengan kasih sayang, bukan dengan kemanjaan, jadi dia harus bisa menyadari tidak semua yang dia mau bisa dipenuhi.

To All Our Friends….Thanks for the spirits ya……..it means a lot to us

Author : Ratih Nurhastuti

email : ratih.nurhastuti@transtv.co.id, ratih_nh@hotmail.com

YM : ratihnurhastuti


Iklan

Satu pemikiran pada “Temper Tantrum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s