Persaingan Big Four, Tentang Volume Silinder


Mengamati persaingan Big Four alias motor-motor Jepang di Indonesia menjadi hal yang menarik. Honda dibandingkan dengan Yamaha, Suzuki dan tidak bisa dilewatkan adalah Kawasaki. Lebih spesifik lagi dikomparasi produk-produknya, misalnya Abs Revo dibandingkan dengan Vega ZR, Smash dan Edge. Memang keempat produk bebek tersebut mempunyai kapasitas silinder yang hampir sama, sehingga bisa dibilang sekelas.

Memang kapasitas silinder-lah yang banyak digunakan sebagai acuan untuk membandingkan bahawa motor A satu kelas dengan motor B. Selain juga bentuk fisik secara umum, bahwa motor X masuk kelas bebek, motor Y masuk kelas sport atau ada motor Z yang masuk bebek sport. Memang ada pembanding lain yang digunakan, yaitu teknologi yang diterapkan pada suatu motor, sebagai contoh Honda CS 1 selalu dibandingkan dengan Yamaha Jupiter MX dan Suzuki Satria FU.

Marilah kita tengok ke belakang, produk-produk yang telah dilempar empat ATPM Jepang tersebut di negeri ini khusunya tentang kapasitas silindernya.

1. Honda, menjadi acuan

Sebagaimana kita ketahui, honda adalah pelopor sepeda motor di Indonesia. Honda juga dari awal mengeluarkan produk yang ber platform 4 tak.

Mengenai volume silinder Honda menggunakan kapasitas 70 cc, 90 cc, 50 cc untuk produk bebek dengan nama C. Kemudian berlanjut ke 70 cc  dan 80 cc untuk tipe Super Cub. Tipe Astrea 800 dan Astrea Star masih menggunakan kapasitas 80 cc. Astrea Prima, Astrea Grand, Astrea Supra, Legenda dan Revo bervolume 100 cc. Karisma, Kirana dan SupraX125 menggunakan kubikasi 125 cc. Tipe terbaru yaitu Abs Revo dan Blade 110 cc. Ada juga tipe tersendiri yaitu CS1 yang sudah high tech.

Di kelas Sport ada S 90Z yang berkapasitas 90 cc, yang sekarang ber-evolusi menjadi Win 100 cc. Kemuadian tipe CB yang punya 2 varian 100 cc dan 125 cc. CG juga mempunyai 2 macam kubikasi  yaitu 100 cc dan 110 cc. Berlanjut ke GL 100 cc, GL 125 cc, GL Max 125 cc serta GL Pro yang awalnya 145 cc, diupgrade menjadi 160 cc dan bertransformasi menjadi Mega Pro. Honda Tiger berkapasitas 200 cc.

Di kelas matic honda mempunyai 3 varian Vario, Beat dan Vario CBS dengan kapasitas sama yaitu 110 cc.

2. Yamaha, memang berbeda

Yamaha di dari awal masuk sampai  kurang lebih tahun 1995 serius bermain di 2 tak. Baru setelah itu mulai meninggalkannya dan beralih ke 4 tak.

Di kelas bebek, awalnya menggunakan volume 75 cc untuk seri V. Dilanjutkan dengan kapasitas 80 cc untuk V80, Super Deluxe dan Excellent. Tipe Alfa dan Sigma bermesin sama 105 cc. Sedangkan Force 1 sampai dengan F1ZR juga bermesin sama 110 cc.

Di era bebek 4 tak Yamaha bermain dengan Crypton, Vega dan Jupiter berkubikasi 105 cc. Dilanjutkan Jupiter Z dan New Vega yang bervolume 110 cc. Ada tipe bermesin khusus yaitu Jupiter MX 135 cc. Yang terbaru yamaha bermain di 115 dengan Vega ZR dan New Jupiter Z.

Di kelas sport 2 tak. Yamaha mempunyai RS 100 volumenya 100 cc, juga ada tipe L2 yang juga 100 cc namun dengan mesin yang berbeda. Dilanjut dengan RX 100, RX 125. Kemudian ada RX-S dan RX Special dengan volume 115 cc. RX K berkubikasi 125 cc yang dikembangkan menjadi RX King dengan peningkatan volume menjadi 135 cc. Varian lain adalah RXZ dan RZR yang bermesin sama, 135 cc namun berbeda dengan RX King.

Kelas Sport 4 tak Yamaha bermain di 225 cc dengan Scorpio serta 150 cc dengan Vixion. Sementara di kelas matic ada Nouvo, Mio dan Mio Soul bermesin sama 115 cc serta yang terbaru Xeon 125 cc.

3. Suzuki, punya jalan sendiri.

Suzuki, seperti halnya Yamaha pada awalnya juga bermain 2 tak kemudian bermain 4 tak.

Dikelas bebek diawali dengan FR 70 dilanjutkan FR 80 kemudian Family dan RC 80 yang tetap 80 cc. Selanjutnya adalah RC 100 dan Crystal 110 cc. Kemudian Tornado GX 100 cc dan Tornado GS 110 cc. Suzuki juga mempunyai tipe tersendiri yaitu Satria 120 cc yang sudah hi-tech.

Di era 4 tak suzuki memulai dengan Shogun 110 cc, dilanjutkan Smash dan Shogun 125 cc. Serta Super Underbone Satria FU 150 cc. Yang terbaru adalah Smash Titan dengan kubikasi 115 cc.
Di varian matic Suzuki mempunyai 3 varian berkapasita sama yaitu Spin, Skywave & Skydrive yang 125 cc.

Di kelas sport 2 tak ada Suzuki A 100  kemudian varian GT 100 dan GT 125. Dilanjutkan GP 100 dan GP 125. Lalu ada TRS 115 cc dan yang terakhir adalah RGR 150.

Sport 4 tak Suzuki mengeluarkan varian Thunder 250 dan Thunder 125.

4. Kawasaki, ditengah-tengah

Kawasaki dari awal telah bermain 2 tak dan 4 tak sekaligus.

Di bebek yang 4 tak semua, varian awal adalah Binter Joy 80 cc kemudian Kaze dilanjutkan Blitz dengan volume 110 cc. Ada juga Blitz Joy, Kaze 125 serta Kaze Zone berkubikasi 125. Terbaru adalah Athlete yang masih juga 125 cc serta Edge 110 cc.

Di kelas Sport ada KH100EL yang 100 cc 2 tak, GTO 115 cc 2 tak serta Merzy 200 cc 4 tak. Pernah ada juga AR125 yang merupakan varian 2 tak ber-radiator, yang disuksesi oleh Ninja 150 & Ninja RR yang berkapasitas 150 cc 2 tak. Yang baru tentunya Ninja 250 R 4 tak. Dan varian khusus yaitu KLX yang bermain di 150 & 250 cc.


NB:Banyak varian-varian khusus seperti Honda CB 200, Honda CB 175, Suzuki GT 250 ataupun varian-varian trail seperti Yamaha DT dan Suzuki TS juga motor CBU yang datang cuma sebentar, tidak saya masukkan ke perbandingan.

Dari data di atas, dengan kapasitas yang bulat dan karena merupakan market leader menjadikan produk Honda selalu menjadi acuan. Sehingga banyak yang bilang bahwa “Yamaha suka differensiasi product dengan kapasitas engine yang aneh” . Padahal terlihat Yamaha memang dari awal sudah berbeda dengan Honda, jadi sebenarnya tidak aneh kalo sampai sekarang Yamaha tetap mempertahankannya.

Ini membuktikan bahwa kekuatan market leader memang luar biasa, sehingga bisa mengarahkan mindset bahwa jika kelas 1 honda 110 cc maka merk lain yang tidak ikut 110 cc di bilang aneh.

Suzuki pada era 2 tak terlihat sekali selalu head to head dengan Yamaha. Terutama di kelas bebek , dan bisa dibilang Suzuki dan Yamaha adalah musuh bebuyutan, apalagi di balapan. Memasuki era bebek 4 tak Suzuki bermain di kelas 110 cc yang head to head dengan Yamaha dan Kawasaki. Namun  juga mencoba menyaingi Honda dengan kelas 125 nya yang juga diikuti oleh Kawasaki. Namun Suzuki selalu mempunyai jalan sendiri dengan meyisipkan produk yang tegolong Hi-tech, 120 cc 2 tak dan 150 4 tak, yang nota bene tidak ada saingan. Setelah muncul bebek 115 cc maka Suzuki akan bernostalgia, bertarung dengan Yamaha

Kawasaki terlihat memang berada di tengah. Bebek 4 tak 80 cc pasti head to head dengan bebek Honda, sedangkan Sport 100 cc dan 115 cc 2tak pastinya berhadapan dengan Suzuki dan Yamaha. Bahkan Sport 150 cc pernah menghadapi semua merk, namun yang bertahan sampai sekarang hanyalah Kawasaki. Di kelas bebek kawasaki justru bermain di ladang Honda yaitu 110 cc dan 125 cc 4 tak.

Di kelas sport 4 tak sekarang ini, terlihat 4 merk jepang di atas tidak ada yang benar-benar head to head. Honda di 160 cc dan 200 cc, Yamaha di 150 cc dan 225 cc, Suzuki di 125 cc serta Kawasaki di 250 cc.

Di kelas matic awalnya terlihat juga tidak ada yang bermain di kapasitas yang sama, Honda 110 cc, Yamaha 115 cc sedangkan suzuki 125. Namun dengan dilaunchingnya Xeon maka sekarang Suzuki kembali head to head dengan Yamaha.

Iklan

24 pemikiran pada “Persaingan Big Four, Tentang Volume Silinder

  1. Ping balik: Tweets that mention Persaingan Big Four, Tentang Volume Silinder « Learning To Life -- Topsy.com

  2. ❓ ada yang ngomong AHM ketinggalan mbikin 110cc sehingga begitu AHM buat 110cc merk sudah naik ke 115cc

    ➡ ada juga yang ngomong AHM duluan membuat 125cc yang lain ketinggalan dan membuat cc lebih kecil [115cc] karena gak mungkin membuat 125cc akan lebih powerfull…

    😯 dan di segmen sport sekarang muncullah gl15a1rr/d yang katanya lebih powerfull, halagh kok malah nyales… 😛

    alrozi hadir pakdhe…

    Suka

  3. @pak mitra & skyrider
    Honda win dan smash titan sudah dimasukkan. Makasih inputnya. Untuk motor CBU dan yang cuma beredar sebentar (125Z, Sonic, Dash, Touch dll)tidak saya masukkan.

    Suka

  4. Sayang..Honda (lokal/Indonesia) tidak pernah bermain di 2tak,jadi belum lengkap kiprahnya. Beda dengan pabrikan Jepang lainnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s