Jakarta, Antara Trotoar, Macet dan Busway


Minggu ini, dengan rasa berat terpaksa saya meninggalkan Semarang. Cukup lama juga saya di kota Lumpia itu, hampir 3 tahun ternyata.

Sebagai sebuah buih di lautan, saya hanya bisa menurut kemana ombak akan membawa.

Semarang

Bagi saya yang sudah merasakan suasana Jakarta, kemudian pindah ke daerah dan lalu kembali ke Jakarta rasanya agak berat menjalaninya. Terbayang kemacetan, semrawut, panas, kumuh dan sebagainya.

Namun karena masih jadi pesuruh-bukan penyuruh-ya mau tak mau harus dijalani.

Dan benar, hari pertama berangkat kerja saja sudah disuguhi pemandangan ketidak-disiplinan di jalan, yaitu Motor Lewat Trotoar.

Hal ini sering dibahas oleh pemerhati RSA seperti Eyang Edo.  Namun prakteknya, yaaaah tetap berjalan.

Hal kedua yang saya temui di pagi pertama di Jakarta adalah Macet.

Pemandangan di atas adalah hal biasa di Ibukota ini, kapan saja dimana saja…

Hal selanjutnya adalah Busway. Karena saya transportasinya menggunakan Bus Trans Jakarta atau yang lebih terkenal dengan Busway ini, saya memperhatikan lebih.

Dulu, tahun 2007 saya meninggalkan Jakarta ketika kondisi Busway sedang parah-parahnya. Kendaraaan lain seperti bebas masuk ke jalur khususnya. Antrian penumpang dan waktu tunggu molor panjang. Bahkan di Halte Dukuh Atas, antrian penumpang sampai ke jembatan ketika jam pulang kerja. Padahal konstruksi jembatannya saya yakin tidak untuk mengakomodasi beban statis dan lama.

Ketika penumpang masuk Bus-pun seperti penumpang mudik naik Bus ekonomi, berdesak-desakan, berebutan, panas, sumpek.

Tahun 2010 ini bagaimana? Mari kita lihat

Ternyata Bus Trans Jakarta masih mendapat pengawalan dari Voorrijder yah :mrgreen:

Tuh kan, pengawal Bus tampak setia mengiringi.

Terlihat jelas “barisan pengawal” itu yang terdiri dari berbagai macam motor dan pengendara, juga pengendara wanita tidak wau ketinggalan.

Walaupun begitu saya tetap menggunakan jasa Bus ini.

Untung harga ticketnya belum naik, kalo pelayanannya masih payah sebaiknya memang jangan naik.

Dari atas shelter terlihat jelas para pengawal itu

Terlihat motor terkahir dari “barisan pengawal” itu. Jangan salah, dibelakangnya masih ada barisan yang sama besarnya.

Ketika naik, seperti biasa tidak dapat tempat duduk. Berdiri bersama penumpang lain.

Begini pemandangan di dalam Bus sewaktu saya sudah mendapat tempat duduk. Sebelumnya say berdiri dan susah mengambil gambar karena saking penuhnya. Foto diambil tepat jam 8 pagi.

Sepertinya sih ada peningkatan dibanding tahun 2007. Karena waktu yang ditempuh lebih cepat dan di sepanjang jalan Rasuna Said, jalur Busway bersih dari kendaraan lain, kecuali yang menyeberang. Tiga tahun lalu, di jalur yang lewat kuningan, banyak intervensi mobil dan motor. Kalau jalur Ragunan-Buncit-Mampang, memang jalur penuh gangguan.

Masuk koridor I, setelah sebelumnya di Koridor VI, disini lumayan tertib. Jalur Sudirman memang paling stricted. Baik jalur umum maupun Busway tidak ada gangguan berarti. Asal jangan ada demonstrasi atau acara lain.

Di Koridor I yang merupakan jalur Busway pioneer, kedatangan bus tertib, gangguan juga sedikit. Harusnya semua koridor keadaanya seperti ini.

Demikian laporan pandangan mata dari Ibukota Negara.

Iklan

27 pemikiran pada “Jakarta, Antara Trotoar, Macet dan Busway

  1. Walah..wis nang JKT kang, rencana main ke tempat aku nguli bisa pending lama ini :). Karena sudah pernah ada di jkt, semoga adaptasinya cepet ya kang.

    * tetap sehat, tetap semangat sehingga kita bisa kopdar2an lagi & jgn lupa blognya terus disi, amin 😉

    Suka

    • @Adi
      Kalo buat jualan sja sih mendingan, lha motor aja make buat ajaln alternatif

      @Tiyo
      Heheheh, kerjaan berubah jadwal launching berubah..biasanya jam 05:00

      @Cak Poer
      aku malah sudah ke TransTV kang heheheheehehe……kapan sapean ke kantor pusat?

      Suka

  2. Memprihatinkan memang.
    Kalo di dps yg sering sy lihat adl pada keluar marka.
    Atau pas ditrafficlight,lampu udah merah tp barisan akhir msh tetep jalan
    Buzet dagh

    Suka

  3. trans jakarta.. hmm baru 2x naik.. di critani kondekturnya.. kalau hari sebelumnya, habis nabrak 2 orang abg sma cewek, cantik pula (katanya) tewas ditempat, masuk jalur bus way ga nengok2 langsung slonong dan bress…..

    ** kapan2 kalau libur main mas.. ntar gantian :mrgreen:

    Suka

  4. @Kang Maskur: Lha kok blusukan nang trans tv lagi ngapain njenengan? :mrgreen: , ya paling kalo ada undangan dari pusat, plg pasti ya pas HUT kang. Have nice day 😉

    Suka

  5. pengalaman berharga, Pakdhe… Dulu pertama kali ke Jakarta juga langsung potret-potret lingkungan sekitar… satu hal yang gumun, yaitu adanya Bemo… Lucu juga ngeliatnya… Sama sungai yang hitam kelam ❓ serta motor yang naik ke trotoar jugak!

    Mmm… jadi bener ya berita dari si dewa Asmara si Lingga Asmaramembara, ewh Asmarantaka itu… Selamat, Pakdhe…

    Juli akhir saya mau solo riding ke Cilacap, haduh ngga bisa ketemu pakdhe dong… ❓

    Suka

  6. bener paklek, semenjak ninggalin jakarta akhir 2005 yang lalu rasanya aneh kalo pulang ke jakarta, apalagi suasana di mojokerto ndeso banget, beda ma di jakarta yang semerawut..
    soal safety riding di jakarta walo udah full safety gear ya tetep banyak yang ngelanggar etika berkendara, lhaa kalo di sini wuaaakeh sing ra mudeng ambek sapeti raiding, sing penting banter2an..
    kaco dah.. helem sni yang hanya 200rb jarene kelarangan.. 😯

    Suka

  7. Bener Mas beda dg Semarang ya, kalau naik kendaraan disana enak santai, kilometer motor lama naiknya hehehe, kalau di Jakarta wih kilo meter pulang pergi seminggu untuk motor baru bisa langsung masuk bengkel, untuk servis pertama hehehe.

    Suka

  8. Untung ga tinggal di jkt. Ngga suka suasananya. Ga tau kenapa,tiap abis singgah beberapa hari di jkt,pulangnya pasti langsung sakit. Iklim,lingkungan,kualitas udara dan airnya ga bagus

    Suka

    • @all
      iya nih , kayaknya lama di Jakarta hiks hiks hiks
      sibuk lagi
      nggak sempat blogwalking dan jawab komentar kalo siang, malam juga capek
      yang ke JAkarta cuma plesir sih enek-enak aja,

      Suka

  9. wah..wktu d JKT tinggal d mna mas? ini Busway Koridor VI lwt rumah sy d Mampang Jaxel.

    lucu2 mas komennya..msh pake voorijder 😛

    tp sy klo naik mtr pantang masuk jalur busway!

    Suka

  10. FAKTOR DESAIN JUGA SANGAT MENENTUKAN. BANGUNLAH TROTOAR LEBIH TINGGI DARI JALAN RAYA. MISALNYA 30 CM. SEHINGGA MOTOR TIDAK BISA NAIK. DI SETIAP JARAK 30 M MISALNYA TROTOAR DIBUATKAN 1 ANAK TANGGA SETINGGI 20 CM UTK MEMPERSULIT MOTOR LEWAT.
    SEMOGA.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s