Empati Kepemilikan Motor


Untuk artikel kali ini, saya monta maaf terlebih dahulu jika ada yang kurang berkenan.

from : media.scout.com/

Empati, menurut Kamun Besar Bahasa Indonesia adalah:

Keadaan mental yg membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dl keadaan perasaan atau pikiran yg sama dengan orang atau kelompok lain.

Artikel ini terinspirasi dari sebuah notes facebook, atau sudah saya copy juga di SANA. Saya kutip dari artikel tersebut.

==================================

Kegagalan Sebuah Empati

Alkisah di sebuah sekolah dasar, tercatatlah seorang siswa kelas satu. Sebut namanya Bakar. Ia anak konglomerat ternama.

Bakar masih menikmati warisan kebesaran itu. Ia bersekolah di SD unggulan berstandar internasional dan bilingual, sekitar 2 kilometer dari rumah (mobil senilai Rp 1 miliar yang ia pakai hanya mencatatkan perjalanan 4 kilometer setiap hari). Seorang sopir dan ”baby sitter” mengantar dan menungguinya setiap hari saat ia belajar.

Mengarang adalah pelajaran yang diposisikan amat penting di SD tersebut. Satu ketika, sang guru meminta siswa kelas I membuat karangan tentang kehidupan keluarga yang sangat miskin di seberang benteng sekolah. Sang guru, yang berasal dari keluarga menengah, berharap dapat menumbuhkan empati anak-anak didiknya yang serba berada terhadap nasib kelompok lain yang tak berpunya.

Lalu, dengan sesekali menerawang dan membayangkan kehidupan keluarga miskin, Bakar menggoreskan pinsilnya dengan huruf-huruf yang belum sempurna benar. Ia menamai tokoh dalam karangannya sebagai Pak Abu.

”Pak Abu,” tulisnya, ”adalah orang yang sangat miskin. Benar-benar miskin, sampi-sampai pembantunya juga miskin, sopirnya miskin, dan tukang kebunnya pun miskin.” ”Karena sering tak punya uang, Pak Abu jarang membersihkan kolam renang di rumahnya. Ia juga hanya bias memelihara ikan-ikan kecil di akuarium seperti lou han yang makannya sedikit, tidak seperti arwana dan koi di rumahku.

Kucing siam punya Pak Abu juga kurus, soalnya kurang makan. Ayam yang ia pelihara juga yang kecil-kecil, jenis kate.”

Bakar, yang berpikir bebas, menulis karangannya itu dengan penuh haru. Ia sesekali mengernyitkan dahi. Ia berpikir dirinya tak mungkin bias menanggungkan kemiskinan seperti yang terjadi pada keluarga Pak Abu.

Alangkah malangnya keluarga Pak Abu, pikirnya. Jangan-jangan anak-anaknya harus berebut saat bermain PS2, karena alat permainan itu hanya ada satu di ruang keluarga. Lain dengan di rumahnya, setiap kamar ada. Di kamar Bakar, di kamar kakak-kakaknya, bahkan di kamar ibu-bapaknya

Sopir dan pembantu Pak Abu pun, pikirnya, pasti sedih karena tidak seperti pembantu dan sopir dirinya. Bakar membandingkan handphone yang dipegang sopir dan pembantu Pak Abu mungkin jenis monophoni yang ketinggalan zaman, lain dengan handphone pembantu dan sopirnya yang polyphonic dan bisa kirim MMS.

Ia membayangkan kepala urusan dapur di rumah Pak Abu mungkin hanya bias belanja di pasar yang becek atau supermarket kecil di perempatan jalan. Padahal, pembantu di rumahnya sangat biasa berbelanja ke hypermarket Prancis dan mal-mal.

”Anak-anak Pak Abu,” tulisnya dengan empati penuh, ”kalau liburan tidak bisa ke Eropa atau Amerika seperti aku. Mereka hanya bisa berlibur ke Bali. Itu pun pakai pesawat yang murah, low cost carrier.”

==================================

Di sini saya hanya ingin mengingatkan, dengan cerita di atas.

Sering membaca komentar-komentar yang mengharapkan motor bebek dihilangkan dari muka bumi. Motor itu harus sport semua, jika tidak ya matic ber cc besar, atau ber cc kecil namun bertenaga besar, canggih, hi-tech dsb.

Ingatlah, motor bagi rakyat Indonesia bukanlah hanya sebagai hobby (untuk touring atau di ikutkan dalam lomba modifikasi). Atau di sisi lain hanya sebagai kendaraan alternatif untuk menghindari macet. Atau juga sebagai alat bergaya.

Motor bagi masyarakat kita bisa jadi hanyalah kendaraan satu-satunya yang dimiliki seluruh keluarga. Bahkan lebih dari ini, motor adalah alat untuk mencari uang, penghasilan satu-satunya. Baik sebagai alat transportasi ke tempat kerja, atau bahkan lebih dari itu misalnya sebagai alat berkeliling menawarkan dagangan ataupun untuk ojek.

Sebagai kendaraan keluarga atau sebagai alat mencari penghasilan. Motor bebek lah (apalagi yang konvensional) yang paling pas valuenya. Harga murah, bisa dipakai siapa saja, praktis, sparepart juga terjangkau, apalagi yang ada KW2, KW3 dll. Tenaga dan kecepatan, top speed, torsi dll dll tidak jadi pertimbangan. Selain itu, mereka juga berfikir : Kalo dijual lagi harganya tinggi nggak.

Mengenai kelakuan pengendara motor bebek yang sembarangan, piranti keamanan tidak diperhatikan, suka melanggar aturan. Saya kira penegak peraturan lah yang harus bertanggung jawab. Kenapa membikin SIM begitu mudah, kenapa pelanggaran begitu gampang ditukar dengan uang 20 ribu. Kenapa pendidikan keselamatan berkendara tidak diadakan. Kenapa petugas itu mudah kompromis kepada kalangan tertentu.

KENAPA PERATURAN TIDAK KONSISTEN DIJALANKAN!!!!!!!!!!!!!!

Jika awalnya peraturan itu TEGAS diterapkan, lama-kelamaan mereka akan takut sendiri. Mungkin seiring dengan itu diberi penjelasan mengenai peraturan-peraturan tersebut. Jadi hasilnya bukan hanya karena takut, namun juga karena sadar. Sebagai contoh kasus, penghilangan becak dari DKI tebukti bisa terlaksanakan. Itu contoh yang tegas dan tidak dilanggar sampai sekarang.

Yang Kayak Gini Harus Di Tindak, Namun Juga Dicarikan Solusi

Jadi buat orang-orang yang anti bebek, mungkin artikel ini bisa memberikan sedikit gambaran. Bukannya saya setuju dengan perilaku pengendara bebek yang membahayakan, namuan janganlah kesalahan ditimpakan dari satu sisi saja. Lihatlah sisi yang lain. Jadi bukan bebeknya yang harus dihilangkan, namun PERATURAN ditegakkan dan PEMAHAMAN KESELAMATAN BERKENDARA yang perlu disosialisaikan.

Iklan

40 pemikiran pada “Empati Kepemilikan Motor

  1. ungkapan yang tepat untuk keadaan bebek yang dikambinghitamkan adalah “Gara-gara Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga…”

    Suka

  2. setuju pak-dhe…bagi sebagian orang punya bebek bukan hanya untuk “garan urip”..lebih dari itu…tapi juga sebagai kebanggaan tersendiri..ato bisa sebagai lambang eksistensi didalam keluarganya…….
    seperti halnya orang rumah tangga…mau eksis kayak gimana…kalo masih nebeng ortu/mertua..tetep aja dilecehkan……mau butut kayak apa kalo punya motor sendiri dah ayem…..soale di indonesia ekonomi biaya tinggi…beli bom elpiji aja rebutan…jelas2 itu bom..tapi dipasaran juga susah dapetnya………..
    sorry nek dianggep nge junk
    di proyek aja..yang make safety induction aja banyak yang langgar…apalagi dijalan….

    Suka

    • @Penerjemah
      Ya ya ya ya, karena isi belanganya lebih banyak jadi lebih terlihat, kalo motor sport kan cuma sedikit, dan nggak kelihatan.
      @Martini
      Like this banget laaaaghh!!!

      Suka

  3. Disiplin berkendara menurut saya seharusnya datang dari kesadaran akan keselamatan bersama di jalan raya, bukan karena RASA TAKUT. Kesadaran dan disiplin berkendara tidak ada kaitannya dengan mental penegak hukum yang korup (urusannya lain lagi). Tidak usah mencari alasan pembelaan diri jika pada kenyataannya kita salah. Jika semua kembali pada RASA EMPATI (dan peduli pada orang lain) yang anda coba utarakan di sini, maka peraturan TIDAK PERLU ADA, setiap individu bisa mengatur dirinya sendiri.

    Suka

    • @Gizmo
      hahahahah…postingan ini lebih ditekankan ke BEBEK HARUS DIHAPUSKAN KARENA BANYAK MELAKUKAN PELANGGARAN. padahal tidak semua bebek seperti itu.
      jadi empatinya adalah:

      1. buat para pemilik motor sport yang hanya membawa motor buat hobby, buat alternatif dan mengharapkan bebek dihapuskan, cobalah ber empati, bahwa bebek itu sangat berguna bagi mereka.

      2. benar memang disipilin berkendara itu harus atas kesadaran sendiri. namun pola pikir para pengguna jalan raya akan keselamatan tidak sama bro.
      Misalnya ada orang di suatu daerah yang sudat adatnya bahwa perbuatan “A” itu jamak dilakukan, petugas membiarkannya. Padahal menurut peraturan itu salah. Karena sudah jadi kebiasaaan yaaaaaaah…entang sajalah mereka karena tidak tahu peraturannya. Penegak peraturan itu harus memberikan pendidikan kepada seluruh pengguna jalan raya.
      Langkah pertama adalah dengan membuat peraturan itu TEGAS, misal spion HARUS! standar. Jika ada yang melanggar ya dihukum sekaligus diberi penjelasan kenapa kenapa bla bla bla…

      @Vega Rider
      Yah begitulah maksudnya

      @Penerjemah
      Iya kan karena yang melanggar dan merusak citra oaleh motor bebek jadi lebih terlihat kan. Itu yang aku maksud isi belanganya lebih banyak hehehhe

      Suka

  4. @ pakdhe
    maksud saya gak gitu juga pakdhe. gini lo….. emang pengendara bebek tuh banyak banget, ya karena bebek sendiri paling mayoritas. ada yang benar-benar manfaatin untuk cari nafkah, tapi ada secuil yang pake bebek untuk kebut2an, balapan liar, yang ironisnya dilakuin juga di jalanan umum sehingga membahayakan pengendara lainnya. yang lainnya, lebih suka melanggar peraturan yang juga membahayakan pengguna jalan lainnya. nah, golongan2 tersebut itulah yang maksud saya nila setitik ntuh….. CMIIW

    Suka

  5. @gizmo
    memang sih kedisiplinan datang dari diri, tapi apa salahnya sih aparat kalo lebih tegas menjalankan tugasnya?lagian efek ‘disiplin karena takut’ itu kalo diterapkan jangka panjang bisa kok berubah jadi kebiasaan disiplin dari diri..

    Suka

    • @adicuzzy
      yaaah begitulah yang aku maksud 😎
      contohnya tentang pelarangan becak itu. Kalo di motor kayaknya kurang konsisten misal tentang lampu nyala sepanjang hari itu juga sekarang sudah jarang yang mepraktekannya.

      Suka

  6. Baru denger nih Bro, memang ada gerakan memusnahkan bebek toh ?

    Kalau saya penikmat sepedamotor, ternyata naik yang pakai kopling manual dengan tuas kopling di tangan kiri LEBIH ENAK, walaupun mesinnya tiduran 100cc.
    Ini pendapat pribadi, kalau suka naik yang matik ya silahkan… kita sama-sama jaga kenyamanan dan keselamatan di jalan raya.

    Salam,
    bengkelsepedamotor

    Suka

    • @Pak Imam
      Yaaa nggak adalah…kan
      hehehehehehe….cuma, kadang baca-baca koment di blog-blog, kayak gitu dengan emosional.
      Kalo yang ngomong blogger, seperti yang milis KOBOI sih aku yakin merek sekedar bercanda……
      tujuannya sebenarnya ya itu bahwa jangan memandang sebelah mata motor bebek, dan kita harus berprasangka bahwa mereka tidak tahu peraturan…..juga kita harus berprasangaka buruk pada peraturan yang tidak tegas …lho……..

      @zaqlutv
      nah itu dia yang menjadikan pembiasaan karena ketidak tegasan

      Suka

  7. mau motor bebek, motor ayam jago, motor semprot, matic sama2 beroda 2.. ya memang jelas bukan salah motornya tapi si pengendaranya.. tapi karena ditengah himpitan ekonomi kadang jadi tidak memperdulikan peraturan, apapun dilakukan asall bisa mendapatkan sedikit rejeki walo harus beresiko tinggi. yang ironi adalah bila ada jawaban: “lhoo kenapa saya yang disalahkan itu tukang sayur lewat trotoar kok ga ditangkep?”

    Suka

  8. Kang Maskur sekarang jadi busway-er xixixixi :mrgreen:

    Saya sangat amat setuju dengan opini di atas, background dari desa & gaya hidup di kampung lah yg membuat saya memahami betul apa yg dirasakan para bebeker 🙂 Saya masih teringat ketika dengkul kaki kiri saya jadi agak brgeser ke kiri, karena habis nabrak drum yg ditaruh dipinggir jalan karena ada hajatan, hal ini terjadi krna kaki terpaksa ngangkang di atas supra bapak yg penuh muatan kulakan buat toko kelonthong ibu, & ga bisa menghindar karena memang kelebihan muatan.

    Memang hal itu sangat melanggar safety ridng, namun hanya motor bebek butut itulah kendaraan kami yg praktis & MURAH guna membatu aktifitas keseharian, jadi memang bener menurut sebagian orang2 awam, motor itu ya dipake mejeng,gaya & juga kerja. (numpangcurhat.com) 🙂

    Suka

  9. mungkin mereka yg anti bebek belom pernah ngerasain sekeluarga ngga makan karena motornya gak bisa jalan….
    hehehe…
    kok jadi pro-bebek yah??
    ane setuju, penegakan aturan harus tegas..tapi juga harus ada solusi…supaya semuanya senang 😀

    Suka

  10. Hehe..tapi mau bebek, enthog, ayam jago atau pun batangan(lha, binatang apa ini) kalau over populasi juga membahayakan ekosistem(lalu lintas)…imho pemerintah harus mulai memikirkan dan membuat grand strategy yg jelas dan terarah menyangkut sistem transportasi kita..

    Suka

  11. postingannya menarik nih. IMO :

    Banyak bebek yang melakukan pelanggaran ya karena populasi terbanyak sepeda motor itu yang berjenis bebek.

    Analoginya : pasien rumah sakit di Jawa mayoritas adalah suku Jawa.

    Suka

  12. saya gak tahu persis apa masalahnya………

    tapi menghilangkan bebek tetap bukan solusi tepat.

    apalagi “bebek” juga telah menyumbang pasokan makanan bergizi yang yang terjangkau bagi masyarakat kebanyakan……..

    kalo komentarnya gak nyambung…..yo wis ben, mbuh ra weruh….

    Suka

  13. Bebek memang top! Ada teman yg punya beberapa mobil mewah di garasinya & beberapa moge (HD) jg ada, tapi sehari-hari ke kantor naik motor bebek. Waktu ku tanya kok pake bebek pak? Dia jawab, lha wong bebek ini yg saya rasa paling praktis utk di Jkt… Waah yo wis, bebek memang OK kok!

    Suka

  14. oooh gitu, ok deh aku rada ga nyambung ma aritkelnya, sori deh.. emangnya ada gerakan anti bebek kah?? bingung nyarinya, apa yg di warung sebelah (yg mau komen mesti log in)??

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s