Pantai Widarapayung, 17 Tahun Kemudian


Awal Juli kemarin saya dan keluarga jalan-jalan ke pantai Widarapayung. Pantai ini lumayan terkenal di daerah Barlingmascakeb. Ke Widarapayung ini saya mempunyai beberapa tujuan, salah satunya adalah mengetes Skywave seperti yang saya tulis di Test Ride Suzuki Skywave. Bermain di pantai justru bukan tujuan saya, karena rumah saya dekat dengan pantai, jadi pantai bukanlah hal asing.

Tujuan saya yang pasti adalah Nostalgia, sebagaimana saya tulis di artikel INI, saya terakhir mengunjungi pantai ini pada tahun 1993, yang artinya sudah 17 tahun yang lalu. Maksud lain akan saya tulis di artikel berbeda.

Dari rumah, dengan bantuan Google Map, jarak yang saya tempuh kurang lebih 30 km. Kami menyusuri jalur selatan-selatan Jawa Tengah yang lumayan mulus dan sepi. Patokan pertama adalah pasar desa Jepara, menjelang perempatan terdapat rambu petunjuk arah

Dari pasar desa Jepara ini kita berjalan ke arah selatan sejauh kurang lebih 3 km. Kemudian ada gerbang tempat membayar karcis masuk, karcisnya 5000 per motor. Setelah karcis masuk, kita kan melewati sebuah jembatan yang melintas di atas sungai kecil yang oleh masyarakat disebut dengan Bengawan. 17 tahun yang lalu kendaraan hanya boleh parkir sebelum tempat karcis, karena jembatan di atas bengawan ini hanyalah berupa jembatan bambu. Sekarang kendaraan bisa masuk karena jembatannya sudah berkonstruksi beton

Pemandangan pertama yang kita lihat sebelum pantai adalah Tugu Peringatan Tsunami 17 Juli 2006. Lalu di kanan kiri warung-warung bertebaran serta tempat parkir. Juga ada beberapa kolam renang. 17 tahun silam, warung-warung terletak di kanan kiri jalan masuk, di pantainya bersih tanpa warung. Yang ada hanya pohon kelapa, rumput dan tumbuhan semak dan perdu kecil serta rumput lari-lari.

Pantai ini sebenarnya biasa saja, namun karena sudah menjadi tujuan wisata sejak dulu. Jadilah segala sesuatu dimasukkan di sini. Sekarang juga ada kegiatan selancar dengan anak-anak pantainya.

Juga ada kuda yang disewakan 10 ribu sekali jalan berkeliling pantai.

Juga terdapat gubuk-gubuk tempat berteduh, serta semacam bangunan pengawas pantai (seperti di film Baywatch, tanpa wanita penjaga pantai tentunya). Namun jangan langsung duduk di gubuk-gubuk itu. Karena, jika anda duduk, beberapa saat kemudian, akan didatangi oleh “anak pantai” yang meminta uang sewa berteduh sebesar 5 ribu. Padahal tanpa ada pemberitahuan sama sekali sebelumnya.

Yah begitulah gambaran singkat tentang pantai ini. Masih ada lanjutannya di artikel yang akan datang. Oh iya ketika saya kesana, mungkin untuk menyambut liburan sekolah, ada gelaran kesenian tradisional Lengger.

Iklan

18 pemikiran pada “Pantai Widarapayung, 17 Tahun Kemudian

  1. Hmm…berarti tarif gubuk/tempat duduk di pinggir pantai itu ga ada standartnya ya Kang?lha pas saya ama keluarga malah mau dimintain masing2 perorang Rp.5.000 (edan po piye xixixixi), tapi untungnya dgn sedikit lobi2 anak pantainya mau juga cukup dikasih Rp.5.000

    overall, pantai widara payung ini cukup mur-mer untuk keluarga, akses jalannya enak, tinggal lempeng aja udah nyampe (nyaris tanpa belokan) :mrgreen:

    tapi yg terpenting kita harus kuat jaga mata, banyak “pemandangan indah” yg sebenernya bukan hak kita xixixxi 😀

    Suka

  2. kok yo masih ingat mas 17 tahun yg lalu ck..ck..ck :mrgreen:
    td ada pos penjaga seperti di pelm baywatch tp penjaganya kaya di film itu jg ndak mas 😆

    Suka

  3. Waktu bernostalgia sm mantan pacar ke pantai sanur,lgsg menuju ktmpat kasur lipat dibwh pohon.
    Saya kira gratis,
    Tp stelah satu jam sy mau pergi,diteriaki yg jaga(spt org pantai kekar)bayar dulu pak.
    sya blg berapa mas.
    dia jwb 25 rb.
    Hmm sy jg gak dikasi tahu sblmnya.
    Soalnya kalo tdk dgn cara seperti ini gak laku kali ya..

    Pantesan aja sebelahku pada duduk2 dipasir
    wkwkwkwk :mrgreen:

    Suka

  4. sudah lama banget gak kesini,,
    mbah saia (almarhum) orang sirau,, yagh gak terlalu jauh jg dari widarapayung,, kalo lebaran tiga hari, maen deh kesana,, tapi rame nya minta ampuun…

    Suka

  5. gambar yang paling bawah itu lo pak mr yang membuatku merasa gayeng, ada klenengan, bukan klonengan lo tapi.
    inget prahu layar, sambel kemangi, dawet banjar negara, dlll lagu campursari.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s