Kepungan


Kepungan 01.jpg
Sewaktu malam takbiran di desa kelahiran, saya mewakili kakak ipar untuk mengikuti acara kepungan di rumah sodara. Kepungan adalah istilah Banyumas untuk Kenduren. Kepungan bertujuan macam-macam, namun yang saya ikuti kali ini adalah untuk selamatan 2 tahun meninggalnya almarhumah ibu yang punya rumah.

Acara diawali dengan Tahlilan yang bertujuan untuk kirim doa. Setelahnya, lalu makanan dikeluarkan. Makanan berupa nasi tumpeng, sayur, lalapan, lauk dan makanan berupa hasil bumi seperti tela pendhem (kacang rebus, umbi-umbian, tela rambat, kentang)dan pala gumantung (pisang dan buah hasil pohon)kadang jajanan pasar serta kupat dan lepet.
Kepungan 03.jpg
Setelah makanan ditata rapi dihadapan peserta kepungan, lalu diadakan ritual doa. Lalu setelahnya diadakan makan bersama. Tumpeng di gempur, lalu dimakan bersama-sama disertai lauk dan sayur yang disediakan. Kepungan 02.jpg
Setelah makan nasi, dilanjutkan makan makanan kecil sambil ngobrol. Di sinilah rasa kebersamaan terasa sekali. Banyak tema yang dibicarakan di sini.
Setelah acara santai selesai, kemudian diadakan acara mberkat . Mberkat adalah membawa makanan untuk dibawa ke rumah tiap-tiap yang hadir. Makanan yang tidak termakan oleh lalu dibungkus oleh masing-masing.
Kepungan 04.jpg
Perbedaan mberkat jaman dulu dan sekarang adalah pada pembungkus berkat. Jaman dulu alat bungkus menggunakan daun pisang atau daun jati. Cara membukusnya menggunakan teknik khusus, kalo tidak benar, bisa tumpah.
Sekarang cukup dimasukan plastik. Atau kalo di kota malah berkatnya sudah disiapkan di kardus makanan.

Posted by Wordmobi

Iklan

12 pemikiran pada “Kepungan

  1. hwuaah,… mesti wareg-wareg-wareg terus njebebeg mlayu nang kakus! :mrgreen:
    tradisi yang memupuk rasa kebersamaan, persatuan dan kesatuan memang harus dilestarikan!

    Maskur® : wah habis buka puasa terakhir jadi agak2 kekenyangan, cukup berkatnya saja 😛

    Suka

  2. ➡ owh, ada yang beda pakdhe dengan budaya di kampungku… kalo di Ngrukem; makanan untuk yang tahlil diletakkan di piring… jadi, biasanya berkuah (gule, tongseng)…
    nagh, untuk yang dibawa pulang setelah didoakan, dikasih ke besek… tetapi tidak jarang;
    1. roti utuh (besar, seperti lapis legit)
    2. hidangan kenduren resmi
    3. beras, teh, telor, gula (mentahan)
    4. roti kecil-kecil (seperti donat, roti sobek, dll)

    hmmm… :mrgreen:

    Maskur® :”Wah kalo seperti ini terlalu mantap, di desaku sederhana saja.”

    Suka

  3. paling enak yg punya anak cowo banyak, klo ada kepungan suruh brangkat smua… 🙂 balike nyangking kbeh hahahaha… maaf lahir batin gan…

    Maskur® :”Kalo jaman sekarang sudah tidak berlaku lagi sepertinya”

    Suka

  4. Kemarin ketika mau mengakhiri puasa ramadhan, di kampung juga diadakan kenduren-an/kepungan tapi di beri “judul” lain yaitu “buka puasa bersama” 🙂 tapi yg dihidangkan kurang lebih sama & peserta kenduren masing2 bawa sendiri makanannya dalam satu wadah tampah/nampan, cara makannya unik, masing2 tidak boleh memakan bawaannya sendiri, semua boleh ngincip2 bawaan yg lain (tuker2an).

    Usai makan, makanan yg masih tersisa dibungkus dibawa masing2, tentunya bukan bawaannya sendiri.

    Sungguh rasa kebersamaan yg di kota2 besar sudah mulai tiada dan inginnya suasana seperti itu tetap ada di lingkungan kita

    * Ngomong2 udah balik jakarta kang? (saya tgl 14 udah di BMS lg)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s