Cerita Mudikku 3


Lanjut lagi, kali ini adalah cerita mudik terbaru, tanggal 8 September 2010 kemarin.

Mudik kali ini saya bisa berbagai dengan orang lain terutama pengguna twitter, karena saya “berkicau”  tentang apa-apa yang saya temui selama perjalanan.

Ternyata asyik juga yah mudik sambil berinternet, berbagi info, juga mencari info tentang kondisi di jalan yang akan dilalui. Namun yang perlu disediakan adalah batere cadangan buat ponsel, karena jika digunakan untuk online, batere ponsel sangat mudah terkuras.
Cerita mudiknya begini:

Begitu waktu berbuka puasa tiba, saya telepon Taxi Express. Saya pesan taksi untuk tujuan Lebakbulus jam 04:00 pagi atau sehabis sahur. Saya kejar waktu sepagi mungkin agar tidak dapat bus bantuan seperti di mudik sebelumnya.

Jika Benny kecewa dengan layanan Taxi Express, saya justru puas. Karena ketika habis sahur jam3 lebih, saya mencoba konfirmasi ke pelayanan Taxi Express. Ternyata taksinya sudah menunggu di tempat yang ditentukan. Akhirnya berangkatlah saya ke terminal melintasi Metro Pondok Indah, dan sampai di Lebakbulus 15 menit kemudian, padahal waktu tempuh di siang hari bisa 1.5 jam.

Sampai disana, saya melihat ada satu bus (lagi-lagi) Gapuraning Rahayu yang sudah berangkat. Di loket ternyata sepi, namun saya tidak kebagian tiket bus AC yang langsung ke Cilacap, orang di depan saya adalah orang terakhir yang dapat tiket langsung.

Artinya saya dialihkan lagi, namun tetap bus dari PO yang sama, namun jurusan Wangon dan tidak ber AC. Ya sudahlah..Namun ada untungnya juga, karena kalo ingin naik yang AC harus nunggu bus dalam perjalanan dari Cilacap, sedangkan bus non-AC sudah siap berangkat-nunggu penuh.

Akhirnya setelah dicek kecocokan tiket dengan jumlah penumpang, berangkatlah bus ke tujuan sehabis waktu Subuh. Setelah lewat Cikarang mulai terasa kepadatannya.

Di kilometer 65 atau percabangan jalan tol Cikampek dengan tol Purbaleunyi, atau di depan pabrik Honda, tampak petugas melakukan buka tutup terhadap kendaraan arah Cikampek. Sehingga beberapa kendaraan beralih menuju tol Purbaleunyi. Sehingga tol Purbaleunyi juga menjadi macet.

Cipularang km 74 – 1

Di kilometer 74 terdapat rest area. Didepan rest area ini juga kendaraan berjalan sangat pelan

Cipularang km 74 – 2

Namun entah kenapa, 1 kilometer kemudian, yaitu kilometer 75. Jalan menjadi lancar dan kosong

Cipularang km 75

Setelah kilometer 75 ini tol Cipularang lancar. Sampai di kilometer 152 macet kembali.

Cipularang km 152

Kali ini karena antrian pintu keluar tol.

Tol Cileunyi km 153

Beginilah ketika melintas di gerbang tol Cileunyi.

Gerbang Tol Cileunyi

Selanjutnya bus melewati pertigaan Cileunyi. Di sini jalanan padat karena sudah bercampur dengan berbagai macam kendaraan, termasuk sepeda motor. Tamapak bapak-bapak Polisi dibantu Pramuka sibuk mengatur lalu-lintas ditengah panas terik dan polusi. Terima kasih.

Pertigaan Cileunyi

Setelah pertigaan ini, bus memutar lalu berbelok ke kiri menuju Rancaekek. Selanjutnya menuju Nagreg. Di jalan raya Nagreg km 36 Citaman, bus berhenti di Rumah Makan Genah Rasa (depan SPBU) untuk istirahat sebentar. Disini juga tempat berkumpulnya posko-posko dari berbagai pihak. Ternyata para penumpang banyak yang tidak puasa.

Sewaktu masuk, kondisi jalan di depan Rumah Makan masih lancar. Setelah keluar ternyata sudah macet. Mulai tampak juga pemudik bermotor, dengan berabagai macam gayanya. Di Nagreg ini kemacetan berlngsung lama, padahal lalu lintas arah sebaliknya sudah dialihkan melalui jalan lingkar. Di turunan Nagreg, pertigaan Cagak sampai Limbangan, Ciawi, Malangbong kendaraan padat merayap.

Kemacetan berlanjut sampai Tasikmalaya. Di sepanjang jalan saya lihat pengendara motor yang terlalu berani. Misalnya menyalip di tikungan padahal dari arah berlawanan pandangan terhalang.

Spanduk Peringatan

Di Tasikmalaya hujan membuat jalanan agak sepi karena sepeda motor berkurang. Terutama sepeda motor non-mudik. Lalu lintas setelah Ciamis sampai dengan Majenang lancar. Di Majenang, karena lalu lintas melalui kota maka agak tersendat. Selanjutnya Karangpucung, Lumbir sampai Wangon, perjalanan diiringi dengan hujan yang cukup deras.

Begitu sampai di Wangon, kurang lebih jam 7 malam. Saya langsung mencari warung makan karena belum berbuka. Di warung tersebut ternyata banyak juga pemudik yang turun. Tukang ojek menawarkan 80 ribu sampai Cilacap. Saya menunggu biar hujan agak reda. Sambil menunggu saya ngobrol dengan beberapa pemudik yang makan.

Ternyata salah satunya ada orang Cilacap yang sedang menunggu dijemput Oomnya menggunakan mobil. Saya (tanpa malu-malu) bertanya kepada orang tersebut, apakah saya bisa nebeng sampai Cilacap?

Akhirnya datanglah jemputan orang tersebut, dan saya dengan sukses nebeng sampai rumah. Lumayan ngirit 80 ribu dan terhindar dari basah-kehujanan. Terima kasih mbak.

 

Iklan

21 pemikiran pada “Cerita Mudikku 3

  1. Mbak-nya mau ngasih tebengan, karena tahu yg mau nebeng blogger terkenal (mungkin mikirnya: sapa tau bisa ikut eksis di blognya)

    wkwkwkwk 😆 :p

    Suka

  2. siji neh ah komen-e ben ganjil 3 :mrgreen:
    ——————————————

    Spanduk peringatannya juga mengingatkan akan brojolnya si Byson 😉

    Suka

    • @cak poer
      yang keluar cuma ponselnya saja. Iya tuh Yamaha berani majang nama produk yang belum keluar.

      @kang tri
      tiger juga pantes dikasi pertamax.

      @pak hadi
      zero budget high impact.

      @galih
      baca kata terakhir.

      @pak irawan
      kalo bisa tahun depan nggak pake mudik.

      Suka

  3. Ping balik: Mudik Naik Motor, Salah Satu Yang Ingin Saya Coba « Learning To Live

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s