Pedagang Gilo-Gilo Semarang


Seperti biasa, hari minggu ngomongin makanan. Kali ini tentang penjual makanan dan jajanan campur-campur khas Semarang yang dikenal dengan nama Gilo-gilo. Tentang ini sudah pernah saya singgung di artikel jadul yaitu Semarang (Part 2) : Simpang Lima (silahkan dikunjungi, masih sepi :mrgren:)

Kurang tahu artinya sebenarnya apa, tapi sepertinya (hanya asumsi saya jadi CMIIW) berasal dari kara “gi lho” yang merupakan transformasi dari “iki lho” yang artinye “ini lho”. Jadi penjualnya ingin membuktikan eksistensi diri bahwa “ini lho makanan dan jajanan yang anda cari”.Saya sering membeli makanan di pedagang gilo-gilo yang ada di depan Masjid Baiturahman Simpang Lima. Saya seringnya membeli buah semangka, karena biasanya baru saja dibelah jadi masih segar, beda dengan penjual rujak yang semangkanya sudah agak layu karena sudah dikupas dan diplastiki.

Apa saja yang dijual mbah-mbah di gerobak gilo-gilonya? Cekidot gan :mrgreen:

Seperti terlihat dari foto di atas, isi gerobak Gilo-gilo terdiri dari kue-kue tradisional dan buah-buahan. Buahnya diantaranya :  nanas, pepaya, bengkoang, melon, semangkan dan pisang.

Sedangkan makanan-makanannya : pisang goreng, singkong goreng, jadah goreng, bakwan, martabak pasar, bakwan, onde-onde, molen pisang, bolang-baling, tahu goreng, tahu isi, tahu petis, nagasari, sate kerang, sate telur puyuh, beberapa macam kerupuk dan masih ada yang lain. Cukup banyak bukan.

Jadi, kalo misal anda ke Semarang. Sekali kali cobalah jajanan pinggiran ini. Karena hanya terdapat di Semarang. Memang tidak elit dan terkesan kumuh, tidak elit, terlihat kurang higienis. Tapi buat perut pinggiran seperti saya kok tidak pernah menyebabkan masalah.

Iklan

20 pemikiran pada “Pedagang Gilo-Gilo Semarang

  1. :mrgreen: waagh, jadi inget kebiasaan tiap ahad pakdhe… biasanya saya ke Pasar Bantul cari makanan tradisional semacam onde-onde, serabi, lumpia, gatot, dll…

    ➡ nawarnyapun gak pernah di tawar! karena saya yakin harga dari pasar (apalagi yang meramu rakjat ketjjil), pasti kasihanlah kalau pakai tawar2 segala…

    Suka

  2. Dah lama ga ke Semarang ni, dulu sering banget kesana krn adiku kuliah disana, kalo minggu pagi jjl ke simpang lima, wuih…ada pasar tiban, siang hrine makan nasi kucing depan masjid, bisa abis 3 bungkus, mantap…:-/

    Suka

    • @Alrozzi
      kalo aku minggu pas di semarang ke Simpang Lima Sunday Market, banyak makanan tradisional dan langka

      @Nick
      Mmmm yang aku tahu rata-rata seperti itu gerobaknya, kalo tempatnya memang di pinggir jalan.
      Kalo bandeng presto itu termasuk makanan mahal/tidak merakyat. (maksudnya yang ada di jalan pandanaran)

      @Tiyo
      2 bungkus karena porsinya kecil. lha namanya aja nasi buat kucing 😎

      @Lingga
      maksdunya mborong gilo gilo? boleh juga

      @Alex
      loenpia itu juga termasuk bukan kelas atas (yang di toko pusat makanan khas maksdunya)

      @Kang Elsa
      yah begitulah, khas banget

      @Kang Chuby
      wah harus mengubah pola pikir. kalo yang itu banyak di bangsal Sakura RSU Banyumas

      Suka

  3. Alah Mas, tulisan ini membuat saya terlempar pada kenangan masa lalu, antara tahun 1982 sampai 1984. Saya kuliah di Akubank Semarang, yang waktu itu kampus utamanya di Mugas debelakang POM Bensin Mugas. Saya dan temen-temen kost kurang lebih 100 meter sebelah barat kampus. Saat itulah saya kenal Gilo Gilo. Masih terbayang lampu minyak tanah yang terbuat dari kaleng cat dan berasap hitam itu. Teriakan gilo gilonya terdengar jelas dari jarak 25 meter. Seringnya saya beli telo godog sama pohung (singkong) goreng. Ini bukan hobby… tapi cari yang harganya paling murah. Eh… salah… harganya sama, cuma telo godok dan singkong goreng ini potongannya gede-gede. Biasanya Mas Gilo Gilo ini nongol habis Isya’. Kalau pagi kami juga sering sarapan bubur yang terbuat dari tepung maezina dan dicemplungin telo dipotong segi empat kecil-kecil. Karena menurut bayangan kami bubur ini seperti makanan jaman penjajahan, kami
    menamakannya “Bubur Jepang”. Kalau makan siang biar murah menunya nasi putih, sayur nangka sama tempe mendoan.Semarang…..Semarang

    Suka

  4. wah rugi gak beli ginian. biar grobakan yg penting ciamik oiii. mau kaya, mau miskin gak majalah.dari pada makan d resto gak mungkin ada jadah, mentho plus sate kerang. apalagi sama doi pasti asik. gak harus yg elit2 yg nomer satu. grobak pun juga nomer satu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s