Resolusi Tahun 2011: Beli Sepeda Motor, Perbanyak Kumpul Keluarga dan Tinggalkan Jakarta


Maaf, penyakit usil lagi kambuh :)…………

Yes..itulah resolusi tahun 2011 ane..!!

Berangkat dari kebosanan, kemuakan dan kekesalan ane yang setiap hari selalu saja menemui kemacetan dan berbagai hambatan dalam beprgian di kota Jakarta nan semrawut ini.

Oke..marilah kita bersama-sama berteriak FOKE YOU…!! atas kinerja pak gubernur DKI Jakarta yang tidak kunjung memenuhi kebutuhan akan sarana dan fasilitas umum bagi warganya. Namun lihat dulu, orang yang baru kalian teriaki FOKE YOU…!! itu sekarang barangkali akan membanggakan koridor baru busway yang baru dibuka..kabarnya sih warga Tanjung Priok akan lebih mudah bepergian dengan koridor baru ini.

Tapi tetap saja..itu bukanlah alasan untuk berkelit dari kesemrawutan transportasi kota. Kalau laju pertambahan kendaraan pribadi tidak segera dihentikan dan dikendalikan, maka sudah pasti Jakarta akan stuck. Well…ini teori yang semua juga tahu, tapi tindakannya..? Manaaaa..?

So, alih-alih buang tenaga dengan mengirimkan santet maupun bom LPG 3kg ke rumah para pejabat kota yang tidak becus bekerja, lebih baik ane mencoba mengubah wajah kota Jakarta ini dimulai dari diri ane. Seperti kata AA Gym bro.. “mulailah dari diri sendiri”

Nah, ini dia..kadang niat kita banyak, namun gerakan/tindakan untuk memulai itu yang terasa berat, apalagi konsistensi dalam memeliharanya.

Jadi..di tahun 2011 yang entah dikenal dengan hewan apa ini ane dengan bangga mengumumkan resolusi untuk : Beli sepeda motor, memperbanyak kumpul dengan anak istri serta meninggalkan jakarta! Motor digunakan tidak di jakarta tentunya

Trend yang terjadi sekarang ini, banyak anggapan bahwa jakarta itu identik dengan kotanya orang kaya..Walah..walah..kok ya orang Indonesia ini paling bisa yaaa mengomentari sesuatu kejadian dengan anggapan berbumbu kecemburuan. Jakarta, karena melihatnya dari kacamata sinetron lalu dihubungkan dengan kemampuan finansialnya. Lagi…di daerah, karena mencari apa-apa lebih sulit lantas dibilang ndesa.

PADAHAL…kalau mau mikir lebih jauh lagi, coba dong jangan dilihat GEDUNG BERTINGKATNYA, tapi lihat PINGGIR JALANNYA, KOMPLEK PEMUKIMAN KUMUHNYA alias daya pengemis, gelandangan pemulung dan sebagainya.

Kalau kita terbisa memberikan cap bahwa orang jakarta itu kaya, lihat dulu kenapa? karena semua-muanya di taruh disini. Mbangun apa-apa di jakarta, mbok sekali kali mbikin gedung 30 lantai di Jayapura atau Timika, bisa juga di Palangkaraya atau Sumbawa.

Tapi kalau mau lihat dan menganalisa isi kepala orang di pemerintahan? Ya..itu dia, mereka bosan dan ingin duit-duit dan duit dari pemasukan proyek  yang ada. Bisa tidur kalau dalam perjalanan, karena naik mobil mewah sekelas Vellfire atau minimal NOAH  serta VOXY atau Elgrand, Prado, RAV4, LEXUS RX350 atau sekedar Elysion atau cuma Estima. Kalo misalnya terburu-buru bisa nyewa voorijder atau kalo perlu lewat jalur Transjakarta.

Yah, namanya orang..pastilah mencari kenyamanan tho..Nanti pasti komentar. “Lha rumah saya di Cikeas masa disuruh ikut arus umum, ya telat sampai kantor?” atau “Lha rumah saya kan di Jalan Diponegoro oi..”

Itu…menandakan bahwa rata-rata orang sudah lupa hidup prihatin, sudah terlalu menikmati hidup nyaman dan enak. Tapi ya ini khan opini dari ane saja…benar tidaknya silakan introspeksi sendiri saja..yaaa.. :mrgreen:

So, akhir kata ane ingin mengajak kawan-kawan sekalian untuk mau mengurangi kemacetan dan kesemrawutan jalanan dengan mengurangi populasi manusia di jakarta. Mari kita tinggalkan kota jakarta ini. Seperti kutipan di atas, MULAI DARI DIRI SENDIRI!. Jadi tahun ini target utama adalah kembali ke rumah. Kalo setiap hari ada 100 orang saja yang pulang ke daerahnya masing masing maka dalam beberapa tahun pasti kemacetan berkurang. Kepusingan ketika mudik, baik di jalan maupun antri tiket juga bisa berkurang.

Ini yang harus dipikirkan pemerintah, bagaimana caranya memindah orang-orang itu keluar dari jakarta. Tentunya dengan cara-cara yang progresif, menguntungkan semua pihak, kecuali pihak yang hanya nyari unttttttuuuuuuuuuuuuuuuuuuuunng melulu.

Kalau kita iri dengan Singapura atau Malaysia yang lebih maju transportasi massalnya, itu bukan semata karena pemerintahnya saja, namun karena mentalitas masyarakatnya yang juga maju. So, mari maju Indonesia..!!

Maaf ini hanya pendapat pribadi. Jika ada kesamaan kata-kata, itu memang disengaja.


benny & mice dicomot dari sini

Iklan

33 pemikiran pada “Resolusi Tahun 2011: Beli Sepeda Motor, Perbanyak Kumpul Keluarga dan Tinggalkan Jakarta

  1. pengen’e sih hidup diluar jakarta
    tapi apa daya, karena sistem sentralisasi, mo ga mau hidup di Jakarta 😦
    contoh : punya proyek di Timika / Palembang, tapi konsultan teknik, kontraktror dkk-nya berpusat di jakarta, di daerah cuma pembangunan gedungnya saja @_@

    Suka

  2. Untung ane udah cabut dari Jakarta delapan tahun lalu.. 😀 Lebih baik disini… rumah kita sendiri.. segala nikmat dan anugerah yang kuasa.. semuanya.. ada disini… 😀

    Suka

  3. hehee.. aye udah merantau ke daerah timur pulau jawa sejak 2006 lalu, tapi kalo pulkam ke Jakarta heran liat Jakarta kok tambah ruwet :mrgreen:
    beda banget ama suasana di sini yang deket sawah dan depan rumah sungai brantas.. 😀
    tapi ga takut banjir, kalo banjir pasti rumahnya Mbah Wiro di Surabaya udah kelelep :mrgreen:

    Suka

  4. hore…akhirnya senior indomotoblog/koboys bisa kembali ke ‘habitatnya’ :mrgreen: , mangztab lah good luck bro, “bali deso mbangun deso” 😀 !!!

    * btw..jadi di tempatkan dimana kang? (jawaban boleh disamarkan atau PM aja) xixixi

    Suka

  5. aku udah back to kampung…dulu tinggal dialam sutra yang nyaman…damai…eh begitu keluar ke jalan raya (bunderan jam) langsung macet..apalagi hari senin jam 7 pagi….mantabbb macetnya!!!

    Suka

  6. Jebule artikel kloningan Pa’dhe, pantesan dari awal mbaca sempet mbatin, ini bukan kalimat dari Pa’dhe krn beliau ga pernah pake kata ‘ane’, iya jon?

    Suka

  7. alhamdulillah, aku sudah gak pernah lagi dapat tugas ke Jakarta, jadi aku gak pernah merasakan kemacetan ibu kota.

    satu-satunya jalan untuk mengakhiri macetnya Jakarta adalah memindahkan ibu kota RI dari dana, tapi jangan ke Jogja sbab aku gak ingin Jogja jadi tambah semrawut.

    Suka

  8. resolusi taun 2011
    tetap sama seperti 2 tahun yg lalu iaitu setia pada resolusi nokiem 320×240
    belum niat pindah ke lain hati, soalnya msh mencukupi kebutuan
    3,5G,vidcall,GPS,qwerty,chasing metal elegant,software,applikasi dan game bejibun hahahahaha gak nyambung blas maap pakdhe

    Suka

  9. cuma di pinggir jakarta, tapi rasane sami mawon.. Resolusi back to kampung tp blm wktu dekat ini mungki 5-7 tahun lg 😀 hoaemmm..
    yg bikin sebel di kota ini : egoisme yg merasa diri paling bener, berpendidikan, berkuasa.. Marai macet itu 😆

    Suka

  10. thn 2006 pernah ditawari kerja di jakarta, tapi milih ke lombok aja, 2008 diminta lg, tp lg2 nolak.
    Membaca postingan ini bikin ga nyesel telah menolak, walau kalo dulu nerima pasti sudah punya hape canggih skrg.
    He…

    Suka

  11. yap…leave Jakarta, NOW!!
    haha…Jakarta udah kebanyakan isinya..ya manusia, ya hewan, ya gedung, ya kendaraan, ya makhluk halus :mrgreen:
    so, leave Jakarta, NOW!!

    Suka

  12. alhamdulillah…. saya tinggal di kampung 😉
    pagi-pagi bangun tidur kasih makan ayam sama burung terus nyapu pekarangan (kalo pas gak malaes)terus duduk istirahat ditemani secangkir kopi.. nikmatnya! 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s