Bali Ndesa Apakah Selalu Untuk Mbangun Ndesa?


Saya masih ingat slogan kampanye calon Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo : Bali Ndesa Mbangun Desa.

Dalam hal ini Pak Bibit yang berasal dari Jawa Tengah ingin kembali dari kota ke desanya (baca dai Ibukota ke Daerah) untuk menjadi Gubernur. Saya kurang tahu untuk membangun atau menguasai Jawa Tengah sebenarnya.

Oke, itu sudah berlalu dan Pak Bibit sudah kembali ke “desa”nya sekarang. Membangunnya saya kurang tahu sudah atau belum. Saya tidak akan membahas itu, namun membahas dua teman saya yang resign dari kantornya yang berprospek besar, padahal masa kerjanya sudah 5 atau 6 tahun dan sepertinya punya “pegangan”. Kantornya adalah BUMN yang bergerak di bidang konstruksi dan kalo tidak salah nomor 1 di Indonesia.

Mengapa saya bisa menyimpulkan mereka sudah punya “pegangan”, karena teman saya yang lain, yang bekerja di bidang yang sama, masa jabatan sama, sama-sama BUMN, namun beda perusahaan, sudah bisa menikmati hidup. Sudah punya mobil, punya kawasaki D Tracker 250 bahkan mengoleksi senjata-senjata aneh yang saya yakin jutaan harganya.

Kembali ke 2 teman saya resign tadi. Sebelumnya saya agak kaget ketika menanyakan kabar dan domisili sekarang, dua-duanya menjawab hal yang sama yaitu : “Jadi PNS di rumah”. Alasannya adalah ingin berkumpul dengan keluarga. Karena mereka selama ini memang terpisah dari keluarga, yang satu divisi luar negeri, satunya di Jakarta.

Ketika menjadi bahasan menarik di milis, akhirnya didapat kesimpulan : Materi Bukan Segalanya.

Dan ada cerita menarik yang bisa dibaca di halaman 2

Iklan

32 pemikiran pada “Bali Ndesa Apakah Selalu Untuk Mbangun Ndesa?

  1. wis tau ngalami mas, pontang-panting golek duit, tp urip koyo robot, ora bahagia

    sing penting tetep ikhtiar tp ora melupakan kebahagian kumpul karo keluarga 🙂

    Suka

  2. Sudut pandang yang menarik. Jadi, pensiun dari sekarang, atau nunggu nanti setelah kerja keras?

    Hmm, sayang, kisah nelayan itu sepertinya tidak bisa diterapkan ke orang kerja kantoran. Karna 9-5 di kantor, dan perjalanan yang macet, pulang ke rumah anak istri udah tidur, hehe…

    Suka

  3. Tahun pertama:
    Mulai nabung mbangun kandang,..
    Tahun kedua:
    menyisihkan uang buat nikah, bantu2 orang tua,..
    Tahun ketiga:
    Kandang sudah jadi elek2an.com, nikah
    Tahun ke empat:
    Tabungan mulai banyak beli rumah, beli hewan ternak, beli sawah, beli rumah, beli kapal pesiar, beli pesawat, ,magang jadi lurah/kades
    Pulang ke desa aman damai sejahtera…
    Sayang semua gak realistis kisanak heheheheuw

    Suka

  4. lo merantau ketika bali ndeso rus buat link, relasi, guyup rukun mulai dari nol, ready / ga terserah yang mo melakukan

    Suka

    • Maaf sebelumnya ini artikel yang alurnya kurang runut, maklum sedang tidak konsentrasi antara pikiran awal dengan tengah serta endingnya

      @kang Elsa
      bisa dishare kisahnya mas, siapa tahu bisa jadi isnpirasi bagaimana caranya menjadi madiri dengan usaha sendiri.
      @isnuansa
      …atau ada cara lain….
      tentang kisah Nelayan, mmmm tidak semua kisah harus diterapkan sama persis dengan aslinya…
      @gaplek mania
      mungkin bisa belajar mulai sekarang,atau kumpul modal dulu, atau bikin usaha di tempat sekarang, jika sudah maju bisa ditinggalkan agar berjalan sendiri….
      tanya kang Barto siapa tahu ada inspirasi.
      @sobek2
      wah.. proses yang ideal sekali…..masih realistis sebenarnya..
      @Raiderobie
      maksudnya pengusaha atau merasa berkuasa?
      @pakbambangnunggangjaran
      agak rancu nih maksudnya

      Suka

  5. kesimpulan terakhirmu itulo pakde yang membuat saya trenyuh.
    Bayangkan 15 tahun yg lalu aku berangkat ke jkt dengan modal dengkul dan baju nempel di badan, hati tak karuan tak pikir memaksakan diri di jakarta lama-lama akan kerasan. sebulan gak krasan tak pikir 2 bulan akan krasan, setahun gak krasan tak pikir 2 thn akan krasan, hingga 15 tahun wis ndue anak 2 tetep ae gak krasan, alesannya 1 jauh dari kampung halaman. akhire cari kerjaan diluar jkt yang memungkinkan bisa sering pulkam. alhamdulillah entuk neng Crbn walau gaji cuman 1/3 dari jkt sing penting so sering muleh. titik pak de

    Suka

    • @Pak Bon
      15 Tahun?
      hebat, aku baru 5 tahun saja sudah ingin segera meninggalkan kota ini.
      1/3?
      Yah seperti itulah yang akan terjadi (padaku jug kah)….
      Jika Kita Kehilangan Sesuatu Di Satu Sisi, Bisa Jadi Akan Mendapatkan Hal Lain Di Sisi Yang Lain Pula.

      Suka

  6. betul pakde, saat aku mengajukan surat pengunduran diri di jkt aku dipaido ambek konco2ku, katanya ngapain pindh dengan gaji yang kecil tapi dlm hatiku aku punya sesuatu yg lain yang aku idam-idankan.

    Suka

  7. dalam hidup dan mencari penghidupan ( baca : mencari sesuap nasi ) memang harus ada salah satu sisi yang harus dikorbankan, mo kumpul terus ama anak istri ( bisa sepanjang hari )tapi hidup pailit, mo dapat uang banyak, merantau ke kota besar, harus jauh dari anak dan istri……kalo saya sih emang dari awal niat kerja yang memungkinkan siang harinya bisa kumpul ama keluarga, cmiiw…..

    Suka

  8. @pakdhe maskur,
    masih dalam proses tapi banyak gangguan dan pemecah konsentrasi hehehe tidak bisa ideal, kisanak
    @pak bonsai,
    di sobek biar dobel /jadi dua,
    kisanak hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s