Dan Koprades-pun Punah


Koprades kepanjangannya adalah Koperasi Angkutan Pedesaan. Namun jika orang mengatakan ini terbayangnya adalah mobilnya. Di desa tempat kelahiran saya memang ada trayek Koprades melintasi 4 desa. Mobil yang digunakan adalah Mitsubishi Colt T120 SS yang dicat kuning.

Koprades seperti ini mulai ada sejak kurang lebih tahun 1995. Sebelumnya sudah ada angkutan umum namun berupa kendaraan pick-up yang diberi semacam penutup dan tempat duduk penumpang, rata-rata yang digunakan adalah Colt T120.

Angkutan ini hanya beroperasi sampai jam 3 sore, setelahnya ojek yang berperan. Namun kalo siang ojek juga tetap ada. Bagi yang butuh cepat biasanya memilih ojek karena labih cepat.

Tahun 2000-an ketika ojek makin banyak dan tersebar. Koprades berkurang, karena hanya membawa barang hasil bumi dari desa ke kota atau membawa belanjaan dari kota ke desa. Mobil-mobil pickup juga berperan menggusur Koprades karena mereka bisa membawa barang lebih banyak.

Tahun 2004 ketika saya sudah tidak tinggal di sana, sesekali ke sana. Ternyata tinggal 1 unit Koprades yang beroperasi. Penyebabnya adalah makin banyak penduduk desa yang punya motor. Mobil-mobil pickup juga makin sedikit.

Tahun 2011 ini, ketika saya kesana, sudah tidak ada lagi angkutan umum di jalan desa. Ketemunya paling truk Colt Diesel pengangkut muatan kayu atau batu atau tanah atau pupuk. Yang banyak malah mobil-mobil bagus yang melintas. Karena jalan desa sudah menjadi jalur alternatif menuju jalur selatan. Selain itu ya motor dan motor lagi dengan berbagai macam tipenya.

Satu hal lagi, semua rumah sekarang punya motor. Yang cuma petani murni dulu tidak punya, sekarang juga punya motor. Bahkan punya lebih dari satu. Sekarang membawa hasil bumi cukup dengan motor. Bawa belanjaan bisa pake motor. Untuk jarak 5 sampai 10 km dan jalur sepi, motor memang lebih menguntungkan, cepat dan irit. Efek lain adalah Tukang Ojek juga mulai punah.

Bagaimana di tempat lain?

Iklan

26 pemikiran pada “Dan Koprades-pun Punah

  1. Dari desa Binangun melaporkan, trayek mBanyumas-Pasinggangan-Binangun masih ada kang, meskipun sehari cuma 2-3 mobil saja yg beroperasi, kebanyakan untuk ngangkut anak2 pegunungan yg sekolah di bawah PP. Tapi ya itu tdi muatannya bisa sangat super overload seperti gambar di atas (malah lbh parah), ngerii… 😥

    Suka

  2. meski ga pake android, dgn winmo jyadul tetep bisa pertamax di warung ini 😀 (padahal pas bandwidth nya lg sepi aja) xixixixi

    *sory ya cak rossi….. eh rosso :mrgreen:

    Suka

  3. di komplek perumahan tempat saya tinggal di bandung tahun 90an, jaman saya masih kuliah, kalo pagi2 angkot menuju dago dan pusat kota selalu penuh sesak. banyak yang sering ngga kebagian angkot. tapi sekarang pagi2 aja udah pada ngetem. efeknya di jalan, angkot sering berjalan lambat dan sesekali menepi di mulut gang untuk mencari penumpang. di jalanan yang sempit sering bikin macet sesaat, atau pemotor harus siap2 manuver mendahului. pertanyaannya apakah ini suatu gejala yang baik? IMHO, saya rasa ngga. ini adalah hasil dari ketidakberdayaan pemerintah untuk menata sistem transportasinya. tapi, kalo buat saya tanpa melihat persoalan lainnya sih asik2 aja lha wong udah kadung suka sama motor 🙂

    Suka

    • @Cak Poer
      Tentang muatan, sudah biasa lah. Dulu adalah pengguna.
      @Roso
      sekarang motor yang diobral murah. asal nggak kejar gengsi yang harus baru biarpun harus dicekik kredit.
      @raiderobie
      nyaman kah? atau pada gak mau repot? yang jelas jalurnya datar kan?
      @The Sunday Painter
      Kalo angkot itu tidak bisa dibandingkan dengan angkutan di desa. Spertinya angkutan di kota itu selalu dibutuhkan.
      @az147r
      Ooooo taksi Carry itu. itu juga beda konsep. karena dia tidak pake trayek.

      Suka

  4. Wah, dt4ku, magelang ndeso, angkutan kayak gitu jg mati suri mas….. saking banyaknya yg pake motor, thn 80-an sekampung paling cm ada 10-an mtr, tp skrg ada 70an lebih,

    Suka

  5. Jadi ingat saat naik koperades di atas…
    kalo dipikir-pikir ternyata membahayakan jiwa… soalnya kalau jatuh kan pasti luka-luka…

    tapi untungnya nggak pernah ada kasus anak sekolah jatuh saat naik koperades…

    Suka

  6. sebenarnya angkutan kota jg terpengaruh lo.walaupun tdk separah didesa.karena kebutuhan transportasi dikota lbh tinggi. sampai demo menuntut jemputan karyawan ditiadakan.padahal rival sejatinya adalah benda bermesin beroda 2

    Suka

    • @Gaplek Mania
      Mungkin gini, angkutan pedesaan puanh juga karena para pemakainya pergi ke kota semua.
      Di kota angkotnya nambah penumpang yang dari desa.
      @Kang jamin
      Bebek, kan paling fungsional. angkut-angkut gampang.
      Sokawera
      Labruk tidak selebar dan semulus itu.
      @pak Bon
      tidak mungkin!!!!!

      Suka

    • @Shummy
      Jogja sebelah mana sih yang ada angkot?
      Kalo “kota” jogja kok aku nggak nemu yah?
      @Ndeso Kluthuk
      kalo mati suri mendingan. desaku itu mati total. 🙂
      @Darmawan
      Perlu di ulas itu.

      Suka

  7. Ping balik: Kenangan Jaman SMU…Saya Minta Maaf Motor Saya Sedang Trouble « Learning To Live

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s