Ketika Suatu Pekerjaan Itu Berdasarkan Rasa Suka


Serius lagi nih…

Beberapa waktu yang lalu saya ketemu teman lama, dulu sebangku ketika SMU. Dia dulunya anak kepala sekolah, namun ayahnya meninggal karena sakit dan butuh pengobatan banyak. Akhirnya dia dan semua sodaranya tidak ada yang kuliah namun mengikuti jejak ibunya berdagang, bahkan teman saya ini rela pernah menjadi TKI.

Dari warung di depan rumah, warung di desa sebelah sampai warung di dalam pasar pernah dilakukannya. Akhirnya dia juga mengembangkan sayap dengan membuka warung Ayam Bakar di depan pasar Patikraja. Sesekali bertemu dia juga cerita kalo sedang melayani banyak pesanan, sibuk tapi banyak pemasukan.

Beberapa waktu lalu setelah kurang lebih 4 tahun tidak bertemu, ternyata dia beberapa tahun ini juga jadi Guru Madrasah. Hah! Ngapain, sementara usahanya makin berkembang, tidak hanya pesanan ayam goreng tapi juga melayani paket makanan untuk hajatan. Akhirnya keheranan saya terjawab setelah ngobrol dengannya:

Teman :  “Maaf mam, baru pulang ngasih pelajaran tambahan nih?”

Saya : “Serius, kamu nyambi jadi guru, sementara bisnis makin berkembang?”

Teman : “Yah beginilah, menghargai mertua. Karena semua anaknya nggak ada yang mewarisi pekerjaannya, aku sampe dibilang “tega” kalo sampe trah guru di keluarga sampe hilang. Aku kan juga anak guru kan?”

Saya : “Memangnya apa yang kamu dapat dari mengajar, kan waktu bisnismu jadi terganggu. Guru kan dituntut waktunya? Belum lagi di madrasah kan berapa sih gajinya”

Teman : “Awalnya memang begitu, padahal gajinya tau nggak berapa? 150 ribu. Tapi ketika menghadapi siswa, ada kenikmatan tersendiri bagiku. Ternyata aku suka mengajar.”

Saya : “Oo begitu..berarti menjadi guru itu jadi hobbymu?”

Teman : “Ya begitulah, yah mungkin karena bisnisku sudah jalan lumayan. Jadi mengajar ini sebagai kesenangan dan juga pekerjaa sosial. Kalo memang aku mengawali dari menjadi guru madrasah pasti akan beda kayaknya.”

Saya : “Lha terus sampai kapan kamu mau menjalani hobbymu itu?”

Teman :”Nggak tahu, yang jelas sekarang aku malah ngambil kuliah di UT.”

Hmmm…Jika pekerjaan dijalani hobby pasti akan beda hasilnya. Apalagi jika menyangkut pekerjaan sosial. Berkhayal juga..andaikan para wakil rakyat itu benar-benar menjadi wakil yang memikirkan segi sosial rakyatnya, pasti negara ini akan beda jalannya.

Selamat berlibur

Iklan

22 pemikiran pada “Ketika Suatu Pekerjaan Itu Berdasarkan Rasa Suka

  1. Kalo gitu teman padhe sama dg saya, hobi saya berdagang ama ngajar, kalo pagi ngajar, istri yg jaga, siangnya berdua jualan di toko, emang kalo ngajar (bagi yg mengalami lho) ada suatu kenikmatan tersendiri…ga bs diungkapkan dg kata2…kalo masalah materi… Dah ada yg ngatur…itu subjektif…

    Suka

  2. mengajar dan mendidik adalah pekerjaan yg mulia.. misalnya kl tdk jadi guru, bisa juga sbg gantinya menjalankan fungsi guru di rumah.. mengajar dan mendidik anak2 sendiri contonya (IMHO)..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s