18 Maret 2011, Kutinggalkan Jakarta


Kisahku…

18 Maret 2011 siang, setelah melengkapi tanda tangan di clereance sheet tugas kemudian adalah mengembalikan laptop ke bagian HR. Ada rasa berat karena sebenarnya ingin sekali menebusnya, namun sayang aturan tidak memperbolehkannya. Ketika Mereka Harus Berpulang Ke Pemilik Sesungguhnya. Copy semua isi laptop, serahkan ke IT untuk diformat, serahkan pada HR, selesai sudah kewajibanku di Jakarta. Kegiatan selanjutnya adalah berpamitan pada orang-orang yang dikenal, baik orang lokal, cinlok (cina lokal) maupun expatriat.

Pulang ke kost-an, packing seluruh barang, cek dan ricek jangan sampai ada yang tertinggal maupun terbawa. Lalu telepon Travel perjalanan Jakarta-Cilacap, beres! Jika biasanya pergi untuk kembali, kali ini tidak lagi. Good bye Jakarta.

Hmm… bernostalgia memang menyenangkan. Tak terasa hari ini setahun sudah saya meninggalkan ibukota. Kota yang super lengkap kap kap kap kap.

Dari barang impor yang mahal luar biasa sampai barang dari kampung bisa kita temui di sana.

Dari mobil belasan juta sampai miliaran ada juga.

Dari wanita jelek sampai wanita cuantttttttiiiiiiiiiiiik ada di sana.

Eits……jangan lupakan yang ini

Dari orang terkaya sampai termiskin ada di sana. dari pemandangan yang bikin decak kagum sampai yang bikin nangis ada.

Dari yang terkaya sampai termiskin ada di sini.

Dari orang yang super baik sampai super jahat tersedia.

Bla

Bla

Bla

Pokoknya semuanya ada di Jakarta!

Di kota metropolitan ini saya banyak mendapat pelajaran dan pengalaman hidup. Alhamdulillah telah merasakan nikmatnya hidup :mrgreen: dan gaji level Jakarta. Alhamdulillah pula telah meninggalkannya.

Bagi yang belum pernah merasakan hidup di Jakarta, sepertinya memang perlu juga. Bagi yang tetap di sana, ya nikmatilah segala fasilitas yang tersedia yang bikin iri orang-orang di luar kota.

Saya sangat salut dengan orang-orang di Jakarta (dan sekitarnya). Di sana mereka biasa menjadi penglaju, biasa menempuh perjalanan 60 km berangkat dan 60 km pulang, setiap hari. Melewati segala rintangan, kemacetan dan pastinya kondisi alam, debu, asap bahkan hujan, angin di tembus. 

Bandingkan dengan di luar kota. Sebagai contoh di sekitar saya saja. 60 km itu jarak Cilacap – Purwokerto, jika dilaju setiap hari pasti rasanya sangat berat. Padahal dengan jarak yang sama, bahkan tanpa macet dan lampu merah. Tapi sangat jarang yang mampu melakukannya. Di Jakarta, banyaaaaaaaaaaak yang mampu, tidak hanya laki-laki perempuan juga.

Kagum juga dengan kesabaran orang-orang di Jakarta (dan sekitarnya). Rela antri, rela macet, bahkan rela melanggar lalu lintasdan sebagainya………… Terlalu panjang jika saya tulis semua.

===============================================

J-A-K-A-R-T-A (baca jabodetabek) adalah kota impian banyak orang demi mencari nafkah. Namun juga bisa menjadi kota siksaan. Tapi ada baiknya memang hidup di sana sebagai “kampus” kehidupan.

 ===============================================

Karena pernah disana, jujur saja saya kangen ingin ke sana lagi. Namun dalam status bukan perantau, bukan pula wisatawan, namun “orang yang sedang bernostalgia”. Atau setidaknya tugas belajar.

19 pemikiran pada “18 Maret 2011, Kutinggalkan Jakarta

  1. kangen mangkat kerjo bar subuh n berusaha menikmati jalur penuh polusi bekasi timur-pondok kelapa-sunter numpak supra cepek jadul…

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Maskur Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s