Maut Bertebaran Di Jalan, Saatnya Merujuk Kepada Syariah


Menarik sekali isi dari buletin dakwah Al-Islam keluaran Hizbut Tahrir Indonesia edisi 594 ini. Agak jarang membaca sebuah buletin Jumat yang isinya tentang kondisi sekitar seperti ini.

Seperti kita tahu tahun ini banyak sekali kecelakaan yang terekspos secara nasional. Diantaranya Xenia Maut juga Bus yang remnya blong. Secara statistik, sudah puluhan ribu kejadian sepanjang 2012 ini. Dalam hal ini belum termasuk kejadian di sekitar kita yang tidak terekspos.

Sangat banyak faktor penyebab semua itu. Faktor utama adalah karena perilaku pengguna jalan. Ugal-ugalan, kurang konsentrasi (menggunakan ponsel, merokok sambil berkendara), melanggar aturan, juga pemahaman fitur kendaran yang kurang (fungsi lampu , sein, spion dll).

Faktor lain adalah karena kondisi kendaraan yang kurang layak, kurang kontrol dan kurang perawatan. Namun di sisi lain  uji kelayakan dengan mudah didapatkan.

Faktor selanjutnya adalah infrastruktur, jalan dan fasilitas penunjangnya. Namun sampai saat ini penguasa sepertinya tidak memperhatikan hal ini. Nyawa rakyat diabaikan. Padahal sangat ironis, dimana untuk kepentingan Pesawat Kepresidenan atau pembangunan Banggar DPR menelan dana yang sangat besar. Pesawat Kepresidenan seharga 820 Miliar cukup untuk memperbaiki jalan sepanjang 16.400 Km, atau dana rencana pembangunan gedung DPR sebesar 1,3 trilyun cukup untuk perbaikan jalan 26.000 Km. Sebagai perbandingn, panjang pulau Jawa ± 1000 km. Faktor ini sangat erat kaitannya dengan KORUPSI.

Ada faktor lain yang sangat besar pengaruhnya namuntidak terlalu nampak. Hal tersebut adalah diterapkannya paham-paham : sekularisme, kapitalisme dan liberalisme yang perlahan-lahan telah menjadi paham nasional.

Dalam hadist diterangkan bahwa siapa yang membahayakan diri sendiri dan orang lain adalah dilarang:

Barangsiapa yang membahayakan orang (lain), maka Allah akan membahayakan dirinya, dan barangsiapa yang memberatkan orang lain maka Allah akan memberatkan.

[HR.Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah]

Dalam hal adanya pungutan liar dll (korupsi), dalam Al Quran diterangkan:

“Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan harta), maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.”

[QS Ali Imran – 161]

Islam mengharuskan seorang pemimpin (dan tentunya yang berperan di pemerintahan) untuk memperhatikan kemaslahatan umatnya. Termasuk di dalamnya adalah memakmurkan rakyat dalam hal transportasi. Memang semuanya memerlukan biaya yang sangat besar. Namu dengan sistem ekonomi Islam (yang dilakukan sebenar-benarnya) pasti permasalahan ini bisa diatasi.

Syariah Islam juga memperhatikan keadilan. Baik kepada umatnya maupun umat lain. Dengan keadilan ini maka akan menciptakan ketenangan pikiran, termasuk ketika berkendara.

Mengenai kejadian yang telah terjadi, sekarnag saatnya berintrospeksi, ingatlah ayat Quran yang satu ini:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) “.

[QS Ar-Rum – 41]

Berarti langkah dan kebijaksanaan yang telah diambil dalam mengatasi segala masalah di Negeri ini belumlah tepat. Harus segera dikembalikan ke jalan yang lurus. Sesuai dengan aturan agam dan hati nurani.

Wallahu A’lam Bi Shawab

Iklan

15 pemikiran pada “Maut Bertebaran Di Jalan, Saatnya Merujuk Kepada Syariah

  1. Tegakkan syariah pada diri sendiri,keluarga,lingkungan…maka.akan terbentuk masarakat syar’i yg tetap berdampingan dengan pemerintah n masyarakat umumnya.

    Suka

  2. apa hubungannya kecelakaan dan syariah ya?!%*&*@ mumet aku, pakdhe. penerapan ‘syariah’ bukanlah obat segalanya yg bisa mengatasi seluruh masalah di negeri ini. Ia gak bakal bikin angka kecelakaan turun kalo faktor kesadaran pengendara akan keselamatan di jalan rendah.

    Suka

    • Syariah itu jangan diartikan sempit. Mematuhi aturan juga termasuk di dalam kebaikan. Berlaku yang benar dalam berlalu lintas itu baik. Semua diniatkan ibadah. Di situlah syariah yang dimaksud

      Suka

    • Bener mas bro. Itu bukan solusi, tapi artikel di atas dimaksud kan untuk menyatakan, bahwasan nya Islam punya perhatian terhadap segala aspek.

      Nah, seharusnya pemeluk agama Islam itu harus memahami akan hal sekecil ini. Karena apa?! Karena ini bagian dari pelajaran akhlak yang paling dasar. Tentu itu sudah diajarkan sejak SD-SMP-SMA, di masjid, di rumah, dan lain2.

      Dulu siasat orang tua kita menggunakan embel2 “pamali”. Misal, kalau jalan ngebut2 bisa seret rejeki.

      Siasat begitu kurang efektif sebenarnya jika ia melekat hingga usia dewasa. Kalau untuk anak kecil tidak mengapa. Karena kalau mereka sudah dewasa, mereka akan merasa dibohongi orang tua nya. Makanya zaman sekarang banyak anak yang suka ngeyel sama orang tua nya.

      Poko’e, dengan intensif nya pelajaran akhlak tersebut di semua lini kehidupan dalam ber-syari’at, maka secara tidak langsung kita akan memetik manis nya keindahanan ber-akhlak. Cmiwww

      Suka

  3. Langsung teringat kisah seorang khalifah yang terkenal dengan keadilan nya. Singkat cerita, suatu waktu sang khilafah mendapat komplain dari rakyat nya karena kaki unta nya patah setelah masuk lubang yang berada di jalan yang ia lalui di kota sang khilafah tersebut berkuasa. Sehingga tunggangan nya itu pun butuh akan pengobatan. Sang khilafah memberikan ganti rugi atas kecelakaan tersebut yang menimpa rakyat nya karena sang khilafah merasa kalau dirinya telah lalai memperbaiki jalan di kota nya. Subbhanallah.

    Suka

    • Jangan diartikan macem2 yow. Mentang2 ada khalifah nya, di-identikan dengan hizbut thahrir. Hehehehehe

      Setidaknya ini memberikan gambaran kepada kita semua betapa indah ahklak mulia itu. Kalau saja setiap hari membaca pesan seperti itu di papan reklame (bukan iklan rokok aja, hehe), lalu di surah, dan di mana pun selalu ada kata2 seperti itu, yakin, hati2 setiap umat akan tentram. Jalan jadi enjoy, dan lebih hati2.

      Lambat laun budaya “motor alay” akan sirna dengan sendirinya. Kan semakin maju bangsa, ditandai dengan tertib pada aturan 😀

      Suka

  4. “Syariah itu jangan diartikan sempit. Mematuhi aturan juga termasuk di dalam kebaikan. Berlaku yang benar dalam berlalu lintas itu baik. Semua diniatkan ibadah. Di situlah syariah yang dimaksud”

    Kalo yg dimaksud syariah demikian sy rasa kurang tepat. IMHO, syariah itu merujuk pada seperangkat aturan. Sedangkan mematuhi aturan itu lebih kpd sikap/attitude/akhlak/moral.

    Menghubungkan banyaknya kecelakaan di jalan raya dengan penerapan syariah tampaknya tidak pas. Maaf, ini seperti lebih mengarah kepada kampanye yang hendak mengganti ideologi negara yang telah disepakati bersama. Belum lagi rancunya apa yg disebut syariah? Syariah islam yang mana, versi siapa? Apakah syariah Islam ala Taliban, ala PAS di Malaysia, ala NAD di Aceh, Arab Saudi atau Iran?

    Saya setuju bahwa pemimpin harus memakmurkan rakyat termasuk dalam hal transportasi, memperhatikan keadilan bagi semua umat, memberantas korupsi dan pungli. Karena itu merupakan cita2 universal penyelenggaraan negara yang bukan milik kelompok tertentu.

    Mestinya rekan HTI menjelaskan dulu konsep ‘syariah’ versi mereka yang hendak ditawarkan kepada rakyat Indonesia. Janganlah menjual pepesan kosong tanpa konsep yang jelas dengan istilah (syariah) yang menghipnotis umat. Lalu pakailah cara elegan dan konstitusional untuk memperjuangkannya dengan membikin partai politik dan ikut bertarung dalam Pemilu. Kalo menang, buktikan kalo ideologi HTI bisa membawa kemakmuran dan keadilan bagi seluruh umat. Itu lebih baik daripada terus menerus berkampanye mengusung ‘syariah & khilafah’. Capek, khan?!

    Maaf, pak dhe maskur kalo melebar kemana-mana dan menggunakan forum ini untuk menyampaikan uneg-uneg saya pribadi ttg kiprah HTI selama ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s