Perkutut Bapakku


Jika pulang ke rumah Ibu, ada satu hal yang mengingatkan saya pada masa kecil. Seperti halnya orang tua di Jawa jaman dahulu yang suka memelihara burung, almarhum bapak juga sama. Dulu beliau memelihara banyak burung dadi burung ocehan (berkicau), perkutut, puter dan derkuku. Saya waktu kecil juga mempunyai kewajiban memberi makan, minum dan membersihkan kurungannya.

Ada satu burung yang agak istimewa, yaitu seekor perkutut hasil penangkaran yang beliau beli dari Paman ibu saya yang sama-sama penggemar burung. Burung perkutut ini “lulut” (penurut) banget, tidak “giras”(liar). Kalau kita pegang juga menurut, kita siul dia berbunyi, kalau kita  “cepleki”(membunyikan jempol dengan jari tengah) dia juga berbunyi.

Dari semua burung yang dipelihara rata-rata berumur pendek, kecuali perkutut ini. Yang saya heran, burung yang dibeli kurang lebih tahun 1988 ini masih hidup sampai sekarang dan masih rutin berbunyi, walaupun sudah tampak tua. Burung ini bahkan lebih tua dari cucu pertama bapakku. Subhanallah, inilah salah satu “warisan hidup” almarhum Bapak yang masih tersisa selain tanaman yang ada di kebun.

WordPressed by Samsung GT-S5830

Iklan

15 pemikiran pada “Perkutut Bapakku

  1. saya jg pnggemar perkutut..d sekitar rumah sy yg kbtln dket htn masi bnyak perkutut2 liar..d rumah puny 3 ekor perkutut..mudah diopeni n memang brumur panjang..ad yg smp 20 tahunan mas..

    Suka

  2. pole kelingan jalak’e mbahku….
    mbiyen munine mirip-mirip kalimat “Wonokitri…Wonokromo”

    mbiyen jange pindah, diculno, tapi gak gelem miber adhoh…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s