Pengalaman Hidup Dari Sebuah Operasi Kecil


Ruang Operasi

pict : ilustrasi

Kamis kemarin saya menjalani sebuah operasi kecil (tapi di struk pembayaran tertulis “operasi besar”). “Cuma” mengambil benjolan di depan mata kaki. Sewaktu cek dokter bedah pertama kali, ditawarkan mau bius lokal apa total? Saya pikir karena “cuma” area kecil, bius lokal sudah cukup. Namun ternyata tidak seperti yang dibayangkan….

Dari pendaftaran, puasa 6 jam sampai sudah masuk ruang bedah, saya masih tenang-tenang saja. Ketika dokter Anestesi menerangkan bahwa : “Pembiusan akan dilakukan di pungung, efeknya dari pinggang ke bawah akan terbius dan tidak bias digerakkan selama 2 jam.” Saya pun masih tenang-tenang saja. Sampai ketika penyuntikan dilakukan, sakitnya lebih dari sekedar suntik biasa ( saya termasuk yang tidak takut dengan jarum suntik), masih tetap tenang.

Sedetik kemudian, efek obat biusnya bekerja. Kaki mulai serasa kesemutan, berkembang menjadi seperti di celup es batu. Petugas bedah kemudian membuat tabir di atas perut sehingga saya tidak bias melihat aktivitas mereka. Kemudian banyak tangan-tangan menyentuh kaki saya, itulah kegitaran operasi dilangsungkan.

Rasa tidak nyaman mulai dari sini. Dari pusar ke bawah benar-benar mati rasa dan tidak bias bergerak, rasanya capek dan ingin bergerak namun tidak bisa. Yang lebih menyiksa adalah beberapa menit kemudian rasa dingin menyelimuti badan. Sepanjang operasi dilangsungkan gigi saya gemeretak dan menggigil. Salah satu petugas sempat menanyakan sesuatu, lumayan agak menghibur, namun cuma sebenta. Selebihnya saya merasa sendiri ditengah kesibukan petugas ruang bedah dan mesin-mesin yang bekerja serta alat pendeteksi denyut jantung. Posisi terlentang dengan tangan kanan kiri masing-masing tergeletak ke samping, seperti disalib.

Saya tersiksa sekitar 15 menit kemudian sampai operasi selesai, lalu saya di pindahkan ke ruang lain dimana perawat bangsal akan menjemput. Di sini, dimana rasa dingin masih terasa, pinggang ke bawah masih kaku ditambah dengan kesendirian. Hanya bisa menggerakkan tangan, dan kepala. Benar-benar butuh teman untuk sekedar bicara atau sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian. Untungnya 10 menit kemudian, seiring berkurangnya rasa dingin, keluarga dating dan menemani sampai perawat bangsa menjemput dan memindahkan ke kamar. Rasa sakit akibat pembedahan malah tidak terasa sakit sama sekali.

Di situ saya membayangkan bagaimana nanti di alam kubur nanti. Kita akan sendiri, menjalani “operasi” dari Malaikat Munkar dan Nakir, setelah sebelumnya kita “dibius total” oleh malaikat Izrail. Kesendirian yang benar-benar sendiri, dan dalam waktu yang super lama. “Operasi”-nya bisa jadi akan menyakitkan.

Bagaimana kita nanti di sana?   Wallahu a’lam bi shawab.

Pelajaran lain, sepertinya mendingan bius total, karena kita akan tertidur selama operasi berangsung. Saya pernah menjalani operasi kecil setelah kecelakaan sewaktu SMA, waktu itu dengan pembiusan total.

Iklan

12 pemikiran pada “Pengalaman Hidup Dari Sebuah Operasi Kecil

  1. penghuni kubur pasti kebanyakan menyesal untuk dikembalikan ke dunia. bukan untuk barang yang belum dibelinya. bertemu istri dan anak2nya. apalagi simpanan hartanya di bank. bisnis besar yg menanti juga bukan. naik moge? haha gak man! cuman ingin ngamal sholeh. gimana gak? di alam akhirat, amal kita jadi fasilitas kita. enakkan di kubur adem paka AC; tapi gak AC kayak di dunia juga. sampai dia masuk surga pun mereka masih merasa rugi. yuk ngamal! 😀

    Suka

  2. trik biar gak sakit pakai jarum besar, harus tenang. supaya tenang, atur nafas, dan saat jarum mau masuk, usahakan hembusan nafas bersamaan dengan masuknya jarum.

    Suka

  3. ane takut jarum suntik tp tetep berani menjalaninya…ngerii kang 😀
    istri ane malah udah 4 kali operasi kecil atau besar dan tentunya memang harus ada yg menemani, kasian kl sendirian

    Suka

  4. Saya juga pernah merasakan waktu menggalami kecelakaan Niat nyari makan yang deket2 malah jadi korban anak alay naik motor bawa kranjang besi ngebut kayak pembalap nyalip motor didepanya, saya yang dari arah berlawanan sudah menghindar masih terkena ujung rak besi rasanya kayak disambit pedang ngak tanggung 24 jaitan dikaki kanan saya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s