Kisah Sang Musafir, Cari Informasi Dulu Sebelum Melintasi Daerah Baru


Sore kemarin, sekitar jam 4 sore, saya istirahat sambil minum es degan di depan kompleks tower Karangpucung. Datang seorang pengendara Vario plat B, dengan muatan penuh (ada ayamnya segala), tampak kelelahan yang berniat beli bensin eceran. Lalu dia bertanya pada pemilik warung nama suatu lokasi, Sidaharja Lakbok. Penjual kurang mengetahui akhirnya saya dan rombongan sedikit memberi informasi rute yang harus ditempuh yang masih kurang lebih 40 km lagi. Musafir Pengendara Vario Karangpucung

Sang Musafir itu ternyata habis perjalanan jauh. Dari Jakarta ke Purwodadi (kampung halamannya), lalu dari Purwodadi akan ke Lakbok (kampung halaman istrinya). Katanya dari Purwodadi jam 5 pagi, lewat jalur yang benar-benar asing baginya, sempat muter-muter bilangnya. Dia sepanjang perjalanan cuma mengandalkan papan petunjuk dan tanya-tanya orang.

Yah kalo saya bilang si mas Musafir ini kurang persiapan. Ketika akan masuk daerah asing dan jalur asing. Sebaiknya mempelajari rute dan milestone yang akan kita lewati. Jika kita-kita yang paham internet dan gadget barangkali bisa mengandalkan peta digital dan aplikasi GPS. Jika awam, kan ada peta cetak yang mudah didapat untuk memilih jalurnya.

Juga digunakan untuk menentukan nama-nama tempat yang bisa jadi acuan. Misal dari kasus di atas nama Lakbok itu jelas kurang dikenal di wilayah Jawa Tengah, padahal sebelumnya ada Sidareja yang cukup dekat dan cukup dikenal. Jadi dari peta kita cari tahu rute Purwodadi – Sidareja misalnya, baru cari tahu daerah Lakbok yang notabene sudah masuk Kota Banjar, Jawa Barat.

Iklan

19 pemikiran pada “Kisah Sang Musafir, Cari Informasi Dulu Sebelum Melintasi Daerah Baru

    • yah anggep saja satu jam. paling enak ya lewat jalur mainstream : Buntu – Sampang – Maos – Kesugihan – Cantelan – Gumilir – Kota Cilacap (jalur lebar dan mulus, tapi rame) jalur mainstream kedua : Buntu – Kroya – Adipala – Cantelan – Gumilir – Kota Cilacap (jalur lebih tidak terlalu lebar, ketemu jalan ahak bergelombang, lebih sepi

      Pada 23 Oktober 2013 12.50, Learning To Live

      Suka

    • yah kan kita lagi di perjalanan dekat, saya statusnya “nunut” jadi nggak pegam peta, tapi sudah di bikinkan rute kok

      Pada 23 Oktober 2013 12.52, Learning To Live

      Suka

  1. dulu sekali , pas mau sowan ke tempat mantan pacar, saya pernah ke sragen lewat solo kota, padahal sebelumnya nggak pernah jalan lebih jauh ketimur dari klaten :D, pas masih di jalan antar kota sih enak, ada plakatnya, pas masuk kota solo, alamak.. gelap dan membingungkan.. (banyak persilangan yang ga ada papan petunjuk)

    Suka

  2. kadang untung-untungan juga.
    banyak juga orang yg disesatkan oleh GPS, muter2 lewat gang sempit sampe gila.
    itulah pentingnya belajar geografi di sekolah

    Suka

    • Bener oom, saya pernah lewat gang sempit muat satu motor doang di daerah ciputat gara gara ngikutin google map, hahahaaa…
      Belajar dari pengalaman itu, kalo google map nyuruh masuk gang kecil, saya bandel aja ambil jalan besarnya toh nanti gmaps bakal rerouting lagi dengan jalur baru. Tapi kalo udah di rerouting perlu di zoom out dulu biar ga cuma disuruh cari putaran balik ke rute lama oleh gmap, hahahaaaa….

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s