Kehilangan Passion Nonton MotoGP


MotoGp coret

Musim ini kayaknya saya sudah mulai kurang tertarik menonton MotoGP, bukan apa-apa sepertinya memang sudah jadi sifat manusia yang mempunyai sifat bosan. Untuk saya pribadi, hal yang sama terjadi untuk tayangan sepak bola.

Sejak kelas 3 SMP sekitar tahun 1994-1995 saya mulai menyukai tayangan sepakbola.

Kala itu Liga Indonesia dimulai dengan nama Liga Dunhill dan ditayangkan TVRI sore hari. Liga luar negeri yang disiarkan adalah Liga Jerman, karena TV Swasta belum masuk ke wilayah saya tinggal. Jadilah saya mulai mengenal liga, klub, klasemen, top skorer dan sebagainya.

Tahun 1995 TV Swasta mulai masuk, ada RCTI dengan Liga Calcionya dan SCTV dengan Liga Inggrisnya. Ada juga Liga Champion, jadilah saya mulai senang begadang nonton bola. Kalo ke perpustakaan, bacanya berita olahraga.

Pada saat itu sepertinya teman-teman lain di sekolah belum ada yang seantusias saya dalam menonton bola. Bahkan waktu Kelas 3 SMU, sewaktu Ebtanas, jam 2 malam saya masih sempat menonton liga champion.

Livescore & youtube

Era berlalu, tayangan bola makin banyak, bahkan datang dan pergi dari satu stasiun tv satu ke yang lain, dari yang gratis sampai berbayar. Penyuka bola juga makin banyak, dari kecil sampai besar.

Saya malah sudah malas menonton tayangan live. Masih suka bola sepenarnya. Biar masih nyambung kalo ada orang nonton bola, andalan saya adalah Internet.

Hasilnya cukup buka livescore.com. Kita bisa tahu apa yang terjadi, gol-gol, pencetak gol, kartu merah dan kuning dan squad serta pergantian pemain.

Biar makin nyambung tanpa menonton, saya buka cuplikan momen-momen menarik dan gol-gol melalui Youtube.

Sekarang ternyata hal yang sama terjadi pada tayangan motoGP.

Dulu semua balapan saya tonton. MotoGp juga dari kelas 125 (sekarang jadi moto 3), 250 (sekarang Moto 2) sampai 500 (sekarang Moto GP) saya tak lewatkan (bahkan Formula 1 juga saya tonton). Moto2 awal-awal juga saya tonton, kemarin-kemarin cukup MotoGp. Walau dibela-belain streaming, beli kuota tambahan.

Sekarang, kayaknya cukup live tweet dan baca blog. Sudah lengkap dan buanyak banget yang  mengulas. Kalo ada kejadian menarik, cari aja di Youtube atau situs video lain.

Posted from WordPress for Android 2.3

Iklan

16 pemikiran pada “Kehilangan Passion Nonton MotoGP

  1. males liatnya karena yg balapan cuma dua pabrikan dan satelitnya, honda dan yamaha om cepet bosen, kalo seri lama enak ada kawak, suzuki, dll jd ga monoton.. kalo F1 terlalu banyak lap dan overtakingnya minim ga suka

    Suka

  2. sama pak dhe, dulu waktu awal2 saya semangat ngeblog, sekarang dah ngga

    dulu juga saya semangat kuliah, sekarang ngga

    parahnya lg, dulu saya semangat hidup, sekarang udah ngga semangat lg menjalani hidup 😀

    Suka

  3. Woh.. mirip2 kisah bola nya..
    Tapi ane kalau Mu sih setia ngikutin dan sebisa mungkin nonton live jam berapapun..
    Kalau MotoGP, gara2 Lorenzo ane selalu pantengin live nya… 😎
    Meskipun emang rada bosenin, akan sedikit terobati melihat gagahnya tampang jagoan kita…
    Jump start is sekseh.. 😀 Manusiawi lah melakukan kesalahan..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s