Cornering Itu Perlu Adaptasi Tipe Motor Dan Jalur


Verza

Manuver ilegal, kaya Amama, ndrawasi level kelurahan kata Aziz. Hehehe maaf sebelumnya, cornering pake motor yang tidak biasa dipake ternyata menyulitkan, perlu latihan dulu untuk adaptasi. Selain faktor kebiasaan, skill dan pengalaman buruk ternyata cukup mengganggu jalannya cornering di jalan yang halus mulus sekalipun.

Start dari jogja apakai Verza, tidak masalah walau sehari-hari naiknya bebek dan matic. Karena pernah ber-sport juga, ketika duduk langsung nyetel pengoperasian gas, rem, kopling dan presneling.

Jalan dalam kota juga tak ada masalah. Masalah timbul ketika masuk pegunungan sekitar Imogiri. Tadinya saya pikir mau jalan santai, ternyata kencang-kencang semua. Jadilah saya keteteran karena belum adaptasi dengan motor sport ini untuk speed cornering.

Banyak pake gigi 4 (biar halus) ternyata ketika cornering langsung kehilangan tenaga dan melebar. Apalagi biar kata jalannya halus, ada sedikit retakan yang menyebabkan trauma terbayang jalan-jalan di wilayah Cilacap-Banyumas yang banyak lubangnya, keder deh.

tempat Pemungutan karcis

Di Tempat Pemungutan Retribusi  Pantai di Kabupaten Gunung Kidul saya bertukar motor dengan Adhani, pakai Blade 125 hitam. Dari sini sampai Sundak baru enak nikung-nikungnya, gigi 2 dan maksimal 3 digunakan dan bisa mengikuti rombongan depan.

Dari Pantai Sundak, sesuai arahan Pak Irawan, bahwasanya jalanan Praci itu jelek, saya pakai Verza lagi. Makan siang kekenyangan membuat semangat malah drop. Namun dengan menggunakan karakter seperti memakai bebek, pakai gigi 2 dan 3 cukup, ada peningkatan, mulai berani lebih cornering di wilayah Pacitan. Setelah sebelumnya dibangunkan oleh lubang-lubang jalan di wilayah Jawa Tengah.


Perjalanan pulang, ganti lagi pakai NMP Fi, ternyata motor ini lebih panjang sumbu rodanya, di jalur menuju Klayar, kedodoran lagi nikungnya. Apalagi di tengah-tengah tikungan sering ada kerikil, trauma membayang. Masuk jalan desa yang tidak bisa speed cornering, justru bisa menyusul rombongan depan.

Vario 125

Dari Klayar ganti lagi pakai Vario ISS. Nah ini baru klop, nikungnya lebih enak dikendalikan, biar kata bodynya kelebaran dan berat, namun enak ditekuk daripada motor sport.

Masuk Wonosari berlanjut Piyungan, saya pakai Scoopy Fi. Ini yang paling nurut buat cornering.  Nikung ke kiri atau kanan bisa dibawa sepanjang garis marka batas luar jalan.

Scoopy Fi

Ternyata jam terbang dalam membawa satu tipe motor itu perlu. Sebagian besar peserta adalah pengguna motor sport, jadi enak-enak saja menaklukan rute. Kalo saya mesti pembiasaan dulu nih cornering cepat pakai motor batangan.

Iklan

32 pemikiran pada “Cornering Itu Perlu Adaptasi Tipe Motor Dan Jalur

  1. lek amama orang mana yah, lucu namanya hehe…amama warockna …
    Beda motor beda nikung walau ada beberapa yang mirip. saya lebih susah nikung pake bebeq….

    Suka

  2. sik sik.. ra kleru kuwi?? aku nganggo skupi malah angel kornering om.. kurang gahar.. penak nmp malah.. nmp diiringno kiwo tengen penak…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s