Seribu Akal – 1.Baterai Bekas


Baterai Bekas

Orang masih ribut-ribut cerita tentang planet Mars. Roket Viking yang mendarat dan alat-alatnya yang macet. Maka kembalilah cerita tentang pendaratan manusia pertama di bulan dahulu, ramai diulang lagi.

Jupri dan Lodan berdebat seru.

“Mesti ada orang di Mars!” teriak Lodan
“Tidak mungkin! Lihat gambarnya, Mars sama saja seperti bulan, kering kerontang,” bantah Jupri
“Ya, tetapi mendarat di bulan tidak ada kesuilitan. begitu dipilih, pas, dapat mendarat. Mendarat di Mars, sampai ditunda berapa kali? Nah sekarang hayo kita bayangkan Mars itu seperti bumi. Viking mendarat bukannya di Jakarta, tetapi di tengah gurun Sahara. Tentu saja kering kerontang. Lalu disangka Mars tidak ada penghuninya. Coba Viking mendarat di tanah seperti kampung kita ini, pasti ada…”
“….ada si Danu dan Ripin!” potong Saba

Yang disebut namanya meledak tertawa.

“Kalian ini berdebat apa? Tentang Mars, tentang bulan. Kalian ini seperti astronot-astronot saja. Padahal waktu ulangan Ilmu Bumi, kalian ditanya dimana Kendari, kalian bilang di Kalimantan,” tempelak si Saba
“Bukan begitu. Aku pikir Manokwari, bukan Kendari,” bertahan si Jupri
“Manokwari juga bukan di Sulawesi, bukan di Kalimantan. Hayo dimana Manokwari?” desak si Saba mengagetkan
“Dimana ya? Lupa lagi tu!” Lodan terkesimak seraya menggigit bibir

Untuk itu si Lodan kena jitak kepalanya oleh si Saba

“Di Irian, tolol!” teriak si Danu sambil mendorong kening si Lodan dengan telunjuk
“Makanya, jangan berlagak cerita tentang Mars segala, kalau nama kota-kota di bumi saja masih plompang-plompong,” tekan si Saba
“Itu kan biasa!” tangkis si Lodan. “Coba saja si Danu. Tanyakan padanya keluarga wayang 7 turunan, pasti dia hafal semua, tetapi keluarganya sendiri… nama embahnya saja dia lupa. Coba hayo Nu, siapa nama embahmu? Siapa?”

Danu tergeragap. Dia memang selalu menyebut-nyebut embahnya dengan panggilan Embah Kakung, tetapi siapa namanya? Namanya yang benar?

Si Lodan membalas. Kening si Danu ia dorong dengan telunjuknya. Mereka semua jadi meledak tertawa.

“Akan tetapi ilmu tentang planet-planet itu memang penting!” lerai si Jupri
“Sangat penting!” sokong si Lodan
“Apa pentingnya?” pancing si Ripin untuk menjebak
“Kalian tahu, planet-planet ini termasuk bumi kita, semua mengitari matahari?” papar si Jupri lagi
“Kalau itu sih semua orang sudah tahu!” Danu menyahuti
“Ya, tetapi tahukah kalian bahwa setiap 2000 tahun sekali planet-planet itu berada sejajar dalam satu garis?”
“Siapa bilang?” menyoal si Saba
“Kubaca di koran, di majalah!” sahut si Jupri ragu
“Ya, sekarang memang aku yang bilang, tetapi aku baca di koran, eh di majalah”
“Apa saja katanya?” si Lodan tertarik
“Katanya karena planet-planet itu sejajar dalam satu garis, gaya tarik menariknya menjadi keras. Di bumi timbul gempa dimana-mana. Bisa-bisa bumi jadi hancur. Kiamat!”

Lalu terbayang kengerian di wajah masing-masing mendengar keterangan Jupri.

“Sungguh Pri?” tanya si Ripin dengan suara serak gemetar
“Koran bilang begitu, eh majalah!” tukas Jupri seakan-akan tidak berani bertanggung jawab

Agak lama menjadi sunyi.

“Seperti ada setan lewat..” celetuk si Lodan
“Eh, aku baca juga teknik baru di koran!” si Saba membangitkan lamunan
“Apa?” tanya kawan-kawannya
“Batu-batu baterai bekas dapat dipakai untuk membunuh nyamuk,” Saba menjelaskan
“Wah boleh kita coba,” si Lodan cepat terpikat
“Hayo kita bikin percobaan!” dukung si Jupri
“Carilah baterai-baterai bekasnya!” perintah si Saba

Dengan sigap keempatnya bersorak meninggalkan Markas Tepi Tanggul itu. Mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil baterai-baterai bekas radio dan bekas senter.

Sementara itu si Saba mengaso dengan tenang. Lalu ia membuat patung kuda dari tanah liat.

Gemercik air di sungai, kicau burung di dahan-dahan, desau angin di bibir-bibir daun, barangkali inilah tanda-tanda bahwa bumi kita ini sebagai planet yang paing indah.

Selesai membuat patung, si Saba lalu tertidur.

Akhirnya Jupri, Lodan, Danu, dan Ripin berkumpul kembali dengan beberapa baterai bekas di tangan masing-masing.

Si Saba pura-pura malas dibangunkan. Setelah diancam oleh si Lodan hendak dikencingi, barulah dia mau bangun.

“Hayo cepat! Kita laksanakan percobaan membunuh nyamuk dengan baterai-baterai bekas!” desak si Jupri
“Apa yang harus dikerjakan pertama kali?” tekan si Lodan
“Kita cari nyamuk dahulu, mana?” sahut si Saba bermalas-malasan. “Cari nyamuk! Kalau tampak, kasih tahu!”

Rajinlah mereka mengintip semak-semak.

“Itu! Itu! Di ujung rumput kuning, di balik daun lantana!” bisik Danu
“Diam, diam!” balas si Saba. Lalu dia ambil sebuah baterai bekas dan dilemparnya nyamuk itu. Beg, sraaaakkk! Baterai itu hilang di semak alang-alang.
“Kalau kena, nyamuk itu pasti mati!” ulas si Saba
“Lantas, dimana teknik barunya?” tagih Jupri
“Ya begitu teknik baru membunuh nyamuk, dilempar pakai baterai bekas!” sahut si Saba seenaknya

Mereka ramai-ramai hendak melempari si Saba pakai baterainya.

“Tunggu! Tunggu! Jangan terburu panas hati,” cegah si Saba, melindungi mukanya pakai lengan. “makanya mesti sadar, dong. Orang sudah sampai ke bulan, ke Mars. Bumi malah sudah hampir kiamat, kalian masih saja dapat dibohongi. Masih mau saja kena kibul! Salah siapa?”

Masing-masing kawan si Saba melemparkan baterainya ke sungai dengan gerak-gerik yang kesal setengah mati.

Sumber

3 pemikiran pada “Seribu Akal – 1.Baterai Bekas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s