Seribu Akal – 2. Sesajen


Sesajen

Kebupatian menjadi kabupaten. Pengantian menjadi penganten. Peranian menjadi panen. Saji-sajian menjadi sesajen.

Di seluruh kabupaten sekarang ini banyak orang jadi penganten! Hal ini disebabkan karena padi-padi sudah rampung naik ke lumbung. Panen sudah usai.

Hari berkah ini biasanya ditutup dengan berbagai macam kenduri. Kenduri umum. Kenduri tanda bersyukur. Ada kalanya berkelompok. Ada kalanya pula jadi satu seluruh kampung. Maka ramailah suasana.

Lantas banyak pula yang mengadakan pesta-pesta pribadi. Biasanya menyangkut kepentingan keluarga. Sunatan atau kawinan, aatau memperbaiki, memperbesar, bahkan membangun rumah baru.

Di kampung si Saba saja, tujuh orang berturut-turut mengadakan pesta. Empat sunatan, dua kawinan, dan satu kaulan karena sembuh dari sakit yang berat.

Karenanya, di mana-mana banyak sesajen.

Sesajen di simpang-simpang empat. Sesajen di pangkal-pangkal jembatan. Sesajen di bawah pohon-pohon rindang. Sesajen di pintu-pintu kuburan. Sesajen di mulut-mulut sumur. Sesajen di kaki-kaki gerbang. Sesajen di atap-atap lumbung. Sesajen di gumuk-gumuk rayap. Sesajen di pinggir-pinggir tepian mandi.

Malah terjadi, orang meletakkan sesajen di depan pintu markas si Saba di sisi tanggul.

Sejak saat itu, si Ripin merinding bulu kuduknya kalau disuruh menunggu di sana sendirian.

Barangkali benar, ada yang tahu markas itu ada “penunggunya”, lalu orang menyajen. Atau karena disajen, markas itu sekarang ini jadi ada “penunggunya”. Yang jelas Saba lima sahabat sudah lama menjadi penunggu markas itu tanpa bertemu dengan penunggu-penunggu yang lain.

Ah, si Ripin memang dasar penakut. Dia malah menolak untuk ikut makan telur rebus, yang diambil dari bekas sesajen itu. Takut kuwalat. Takut ketulah. Takut kesiku.

Ini malah kebetulan. Isi sesajen cuma dapat dibagi empat, Saba, Jupri, Danu dan Lodan.

Sesajen yang diletakkan di depan markas si Saba itu kebetulan lengkap sekali., terdiri dari tiga buah takir besar.

Takir pertama berisi dua takir kecil tempat bubur merah, bubur putih. Satu takir pula berisi bunga rampai, sebungkul kemenyan dan sebutir telur. Telur ayam. Telur inilah yang diambil oleh si Saba dan disuruh rebus pada si Lodan, dimakan berempat karena si Ripin menolak. Terselip pula di takir kembang itu sebatang rokok. Rokok ini mereka campakkan.

Takir besar yang kedua berisi nasi tumpeng kecil. Nasi yang bentuknya diruncingkan ke atas seperti kerucut. Lauknya seekor ikan asin goreng berbungkus tepung, dua buah rempeyek kacang hijau, dan seperempat telur rebus yang sudah dikupas. Sayurnya terdiri dari urapan tauge, kacang panjang, daun singkong, kangkung, dan lembayung. Semuanya direbus, ditaburi remasan kerupuk berwarna merah, putih, hijau.

Si Saba mengenal dari semua bahan urapan itu. Tetapi ada satu yang tidak dikenalnya.

“Apa ini? Daun apa ini?” tanyanya

“Lembayung!” sahut si Danu sembari mencaploknya.

“Apa lembayung?” ceriwis si Saba

“Lembayung itu daun kacang panjang. Diramban pucuk-pucuknya yang muda, direbus!” si Danu menjelaskan

“Direbusnya itu aku tahu! Lembayungnya itu yang aku belum kenal. Aku ‘kan asing di sini!” lagak si Saba

“Ya asing! Baru datang dari Afrika!” ejek si Lodan

Si Saba cuma nyengir.

Di samping urapan, terdapat pula segantet pisang raja, yang matang tentu.

Pada takir besar yang ketiga terdapat lima macam buah-buahan, jeruk, belimbing, jambu, sawo, dan serangkai buni. Lalu lima macam pula rebus-rebusan : talas, singkong, ubi rambat, ganyong, dan gembili.

Lalu ada pula tiga macam penganan yang terbuat dari ketan. Jenang atau dodol namanya. Dibuat dari tepung ketan, lalu dimasak dengan santan. Dibubuhi gula putih dan gula merah. Kemudian diaduk terus di atas api sampai liat seperti lempung.

Ada pula wajiknya.

“Itu nasi manis!” kata si Ripin melihat si Lodan mengunyah penganan itu. Tampak ia sendiri menelan ludah menahan selera, tetapi dia tetap tidak mau ikut makan yang mana pun.

“Yang kutahu, ini namanya wajik!” tukas si Danu. “Ketan dimasak pakai santan. Kadang-kadang kalau lebaran dibungkus pakai kertas minyak warna-warni.”

“Ya, sama kami, namanya nasi manis!” bertahan si Ripin

“Ah, bagaimana nasi; jelas ini terbuat dari ketan!” bantah si Danu ngotot keras

Si Ripin terdiam.

“Tetapi nasi kuning juga bukannya terbuat dari beras, melainkan ketan! Kok namanya nasi!” lawan si Lodan

Sekarang si Danu yang terdiam.

Juadah ketiga yang tidak begitu disukai, ialah gemblong atau jadah atau uli. Terbuat dari ketan juga, ditanak dengan kelapa. Setelah matang lalu ditumbuk. Enaknya dimakan bersama tapai, tetapi di sesajen ini tidak ada tapainya. Sayang!

Dengan sesajen komplit itu, Saba lima sahabat sesungguhnya sudah pesta sendiri, kecuali si Ripin tentunya.

Kenyang pesta, lewatlah sekelompok anak-anak di atas tanggul. Di antaranya ada yang membawa tiga butir telur.

“He, kalian curi telur ya?” gertak si Saba

“Tidak! Kami dapat di sesajen!” sahut yang membawa

“Di sesajen? He, nyawa kalian mau disegel!” gertak si Saba lagi

“Kayak gudang ganja saja, pakai disegel!” tukas si Lodan

“Diam!” bentak si Saba seakan-akan marah besar. “Sesajen itu ‘kan makanan setan! Kalian mau dicekik setan? Hayo, kembalikan!”

Anak-anak itu ketakutan. Mereka lebih takut lagi mengembalikannya. Telur itu mereka letakkan saja di tanah, lalu lari.

“Aku juga sudah bilang, sesajen itu makanan setan!” bangga si Ripin setelah anak-anak itu menjauh

“Setan itu tukang goda. Bukan tukang makan!” balas si Saba seenaknya. “Biar saja mereka menggoda. Kita jangan tergoda! Kalau dia menggoda terus, kita lempar pakai telur. Karena dia sekarang tidak menggoda, telur ini kita rebus saja dirumah Wak Ondok!”

“Orang sudah mendarat di bulan, di Mars, masih saja anak-anak itu kena kecoh” celoteh si Jupri yang tak mempedulikan ucapan si Saba.

Si Saba yang merasa tersindir sebagai pengecoh cuma nyengir saja. Dipungutnya telur yang ditinggalkan anak-anak itu, diserahkan kepada si Lodan. Lodan menerimanya seraya tersenyum lebar.

“Mudah amat dapat telur!” girangnya seraya menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Sumber


Catatan : Memakan sesajen ada yang berpendapat jelas haram untuk yang berupa daging sembelihan dan halal untuk benda lain semacam sayuran dan buah-buahan atau telur dan binatang hidup yang kemudian disembelih secara halal. Namun ketika saya menanyakan ke seorang Ustadz langung beliau mengatakan :“Segala makanan yang ditujukan kepada selain Allah maka haram hukumnya untuk dimakan.”

Jadi anggap cerita diatas adalah dilakukan oleh orang yang tidak tahu, jangan dipraktekkan.


 

Iklan

6 pemikiran pada “Seribu Akal – 2. Sesajen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s