Seribu Akal – 3. Pinjam Tangan


Wak Ondok

Wak Ondok sedang menganyam kukusan, ketika Saba lima sahabat mendatanginya. Pikiran Wak Ondok tidak terpusat lagi jadinya. Ia mengaso sejenak. Wak Ondok bermaksud menggulung rokok, tetapi kehabisan daun nipahnya.

“Daun rokok habis… tembakau juga habis….” keluh Wak Ondok seraya menjulurkan kakinya yang barangkali terasa pegal.

“Beli saja, Wak!” usul si Jupri sekenanya.

“Itulah! Maunya juga begitu, tetapi… uang Wak juga habis!”

Wak Ondok menggeliat panjang. Enak sekali tampaknya. Dalam letihnya terasa seakan-akan ia masih suka bersenda gurau.

“Kalau tak punya uang, mudah Wak!” sela si Lodan sambil memutar-mutar telur di tangannya.

Wak Ondok menyangka ia akan dihadiahi telur, tetapi si Lodan bicara lagi, “Wak beli saja duit dahulu. Barulah duit yang Wak beli itu Wak belanjakan rokok. Kan mudah Wak?” katanya.

“Dasar anak brandal! Orang tua dipermainkan!” terdengar si Danu berlagak jadi ayah yang memarahi anaknya.

“Wak mau merokok, Wak?” si Saba mulai buka suara. Nadanya terdengar sungguh-sungguh. Para sahabatnya sudah bersiap menanggapinya.

“Utang?” tebak Wak Ondok sebagai jawaban.

“Tidak, Wak! Bukan utang, bukan pinjam!” tukas si Saba dengan mantap.

“Apa?” sambut Wak Ondok tertarik juga.

“Beri saya surat kuasa, Wak. Cuma surat kuasa!”

“Surat kuasa apa? Kau mau jual tanah kebunku?”

“Masak sampai jual kebun buat beli daun rokok, Wak. Beri saya surat kuasa menjual buah-buahan yang ada di kebun Wak. Itu saja!” kata si Saba.

“Musim buah ‘kan masih lama! Wak ‘kan mau merokok sekarang?” bersungut Wak Ondok. Sementara itu ia merobek kertas koran, entah bekas bungkusan apa, lalu dipakainya menggulung rokok.

“Tidak lama, Wak. Pokoknya hari ini juga Wak bisa beli daun rokok, tembakau, barangkali juga beras dan ikan asin!”

Wak Ondok mengisap rokok kertas korannya itu sekali sedot. Ternyata rokok dengan kertas koran itu sangat tidak cocok. Wak Ondok terbatuk-batuk, tetapi Wak Ondok masih penasaran. Diisapnya sekali lagi, tetap batuk. Tampak sekali dia tidak dapat menikmati rokoknya itu. Segera saja dilemparkannya ke tanah sambil meludah-ludah. Ia gosok-gosokkan lidahnya ke bibir seperti orang merasa pahit dan pedas.

“Kalau kau dapat membawa daun rokok dan tembakau sekarang ini, jangan kata surat kuasa, kepalaku boleh kau jual!” seru Wak Ondok dengan suara tertawa.

“Kepala Wak nggak laku; kepala Lodan saja!” putus si Danu.

Si Lodan merasa diejek, mencoba membalas dengan sengit. Tindihnya, “Kepala si Danu juga nggak laku, Wak, kosong! Kalau kepala saya banyak isinya. Jadi, mahal harganya!”

“Betul, Wak! Kepalanya banyak isisnya, Wak tahu kan, kepala siapa? Kepala udang! Wak ‘kan tahu juga kepala udang isinya apa!”

Semua ketawa, kecuali si Lodan. Ia ingin membalas ejekan si Danu ini. Sementara dia berpikir-pikir, terdengar si Saba memberi putusan.

“Wak, sore ini kami datang membawa seikat besar daun rokok, selempeng tembakau Sidikalang, sekilo beras Arias, dan satu ons ikan peda!”

“Jangan ikan peda, Ba. Wak lebih suka ikan selar. Biar yang kecil-kecil, asal ikan selar!” tawar Wak Ondok.

“Kalau begitu Wak setuju dengan surat kuasa itu?” jebak si Saba.

“Suka hatimulah, suka hatimu!” suara Wak Ondok mengalah.

“Dan, tinggalkan telur itu di sini. Minta tolong Wak Ondok merebuskannya!” perintah si Saba. Segera ia lalu meninggalkan tempat itu. Para sahabatnya dengan sendirinya mengekor.

—————————-oOo—————————-

Wak Ondok ditinggalkan masih dalam keadaan berpikir-pikir.

Apa saja yang akan diperbuat oleh anak-anak itu? Mereka minta kuasa menjual buah. Buah apa yang akan mereka jual? Memang kebunnya cukup luas. Pohon buah-buahannya juga cukup banyak. Langsat, rambutan, manggis, cempedak, mangga, durian, jeruk, jambu! Tapi sekarang satupun tidak ada musimnya!

Suara singiang-ngiang mendengung menggelikan kuping. Namun, suaranya yang merengek panjang itu malah membuat tempat ini terasa jadi semakin sunyi.

Memang terdengar juga sayup-sayup suara ayam jantan berkokok. itulah sekelumit tanda bahwa rumah Wak Ondok ini masih di dalam lingkungan kampung. AKan tetapi, nyamuk yang selalu merubung di atas kepala dan terus ikut terbang ke mana pun kita jalan, lebih banyak menampilkan kesan Wak Ondok tinggal di tengah hutan.

Di sini malam turun seolah-olah lebih cepat daripada di tempat lain. Itu disebabkan oleh rimbunnya pepohonan, tingginya batang-batang kayu.

Wak Ondok masih juga mengharapkan kedatangan Saba. Telur yang mereka tinggalkan sudah siap direbus. Setelah ia selesai menunaikan sembahyang asar dan anak-anak itu belum mulai juga, hal itu tidak dipikirkannya lagi. Ia telah menarik keyakinan yang lain.

“Mereka pastilah cuma berolok-olok! Buah apa yang dapat dijual di luar musim?” pikirnya.

Dengan hati lebih tentram, ia mulai menjerangkan air panas untuk menyeduh kopi.

Tiba-tiba datanglah si Saba dengan bungkusan-bungkusan. Isinya segulung tembakau, seikat besar pucuk nipah, sekantong beras dan sebungkus selar asin.

“Darimana kalian dapat semua ini, Ba?”

“Beli, Wak, beli!” sahut si Saba tandas.

“Halal, Wak. Bukan curian!” tambah Jupri.

“Lebih halal dari aji no moto!” si Lodan mengembel-embeli dengan suara pembaca iklan di radio.

“Lebih halal dari supermi!” si Ripin melatahi.

“Ya, ya! Tetapi bagaimana kalian dapat semua ini?” Wak Ondok ngotot.

“Ini cuma tukaran dari milik Wak sendiri, Wak! Semua ini Wak punya!” papar Saba.

“Apa jalannya?”

“Waktu kami mau kemari siang tadi, kami lewat dari sempadan sebelah sungai, tercium bau wangi! Ternyata nangka Wak sudah matang. Besar sekali, Wak. Kami jual laku tujuh ratus perak!” urai si Saba.

“Aduh, hajab, hajab!” keluh Wak Ondok.

“Kenapa, Wak?” tegur si lodan melihat Wak Ondok terkelepai.

“Nangaka itu sudah diijon seratus lima puluh, Ba. Wak bisa kena mengganti!”

“Kenapa mesti mengganti? Bilang saja dicuri orang. Kerugian itu tanggungan dia sendiri, Wak!”

“Dia bakal marah-marah!”

“Bilang sama kami! Biar kami keroyok!” lagak si Lodan.

Wak Ondok kelihatan lunglai. Dengan lesu menyahut, “Bukan begitu, Dan! Wak bisa tidak dipercaya lagi. Wak dituduh pinjam tangan.”

“Tidak ada ruginya, tidak dipercaya tukang ijon, Wak. Malah untung! Kalau Wak tidak dipercaya oleh Bank Desa, bolehlah Wak menyesal,” bujuk si Saba mendinginkan hati Wak Ondok.

SUMBER

Iklan

3 pemikiran pada “Seribu Akal – 3. Pinjam Tangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s